Rabu, 4 Februari 2026, pagi hari di Gedung Serba Guna (GSG) Desa Bandung Jaya terasa berbeda. Hari itu menjadi penutup rangkaian International Indigenous Women’s Conference—sekaligus hari ketika suara, pengalaman, dan tuntutan perempuan adat dan komunitas lokal dirajut menjadi sikap bersama.

Sejak pagi, para peserta telah berkumpul. Acara dibuka dengan sambutan singkat, lalu berlanjut ke sesi kesan dan pesan. Satu per satu peserta merefleksikan pengalaman mereka mengikuti konferensi selama beberapa hari terakhir. Cerita-cerita itu tidak dibiarkan menguap begitu saja—ia dituliskan dan dipajang di ruang GSG, menjadi jejak kolektif dari proses belajar, berbagi, dan saling menguatkan.

Widyawati dari Lebong mengaku jarang berada di ruang pertemuan seperti ini. Karena itu, ia merasa sangat berterima kasih kepada Tim Akar yang telah mempertemukan para perempuan di Kepahiang. Kebahagiaan yang ia rasakan tidak hanya hadir dalam sesi diskusi, tetapi juga dalam momen-momen sederhana: memasak bersama, berbagi cerita, dan mencicipi masakan khas lokal seperti rendang gurita yang menghadirkan rasa akrab di antara para peserta.

Dari Riau, Elvi menyampaikan kegembiraannya karena memperoleh pengetahuan yang selama ini tidak ia temukan di lingkungannya. Ia menyadari bahwa persoalan yang dihadapi perempuan adat dan komunitas lokal di berbagai wilayah ternyata saling berkelindan. Dari kesadaran itu tumbuh ruang berbagi, motivasi, dan inspirasi. Elvi pun berencana membawa pulang pembelajaran ini untuk diterapkan di komunitasnya.

Sementara itu, Fani dari Manokwari, Papua Barat, menyampaikan rasa terima kasih kepada Akar yang telah menyediakan ruang aman bagi aspirasi perempuan. Melalui konferensi ini, ia merasa dikuatkan oleh pemahaman bahwa perempuan memiliki ruang dan kesempatan untuk berbicara, serta memiliki peran dan hak atas tanah adat yang selama ini kerap diabaikan.

Setelah sesi refleksi, konferensi memasuki tahap yang lebih strategis. Peserta mengikuti pemaparan konklusi dari tuntutan-tuntutan yang telah mereka rumuskan dan sampaikan pada hari ketiga. Sesi ini bertujuan mencari inti dan titik temu dari mayoritas tuntutan yang akan dibawa dan disuarakan ke Komnas Perempuan pada hari Jumat. Diskusi berlangsung dua arah—peserta diberi ruang untuk mengoreksi, menambahkan isu, atau memperjelas rumusan agar benar-benar merepresentasikan kebutuhan dan perjuangan perempuan adat yang hadir.

Usai jeda istirahat, peserta melanjutkan sesi perumusan berkas manifesto dan rekomendasi. Dari proses ini, disepakati tujuh poin utama. Bersamaan dengan itu, dilakukan pencatatan daerah dan suku yang berada dalam kondisi urgent action—wilayah-wilayah yang mengalami kriminalisasi dan perampasan hak. Pencatatan ini dimaksudkan sebagai respons cepat, agar perwakilan dari daerah-daerah tersebut dapat menyampaikan langsung persoalan mereka di hadapan Komnas Perempuan.

Selanjutnya, peserta mendapatkan penjelasan mengenai dokumen manifesto sebagai sikap politik bersama. Manifesto ini memuat prinsip-prinsip dan harapan perempuan adat terhadap arah gerakan ke depan. Dokumen tersebut dibacakan oleh Dinar dan dibahas secara rinci, bagian demi bagian. Diskusi berlangsung terbuka dan dua arah—jika ditemukan bahasa yang multitafsir atau kurang tepat, rumusan akan diubah berdasarkan kesepakatan bersama.

Setelah istirahat makan siang, draf manifesto dibacakan kembali untuk memastikan tidak ada suara yang tertinggal. Sesi ini ditutup setelah seluruh peserta sepakat pada bentuk final dokumen. Salah seorang peserta kemudian membacakan manifesto tersebut di hadapan seluruh peserta. Dokumen ini selanjutnya akan dibawa dan dilaporkan kepada Komnas Perempuan sebagai bagian dari upaya advokasi kolektif. Usai pembacaan manifesto, suasana beralih ke ruang yang lebih reflektif. Puisi tentang perempuan, perjuangan, dan harapan dibacakan oleh Ibu Supriyanti, Kepala Desa Bandung Jaya. Kata-kata yang dilantunkan menjadi jembatan antara dokumen politik dan pengalaman hidup perempuan yang nyata. Sesi kemudian dilanjutkan dengan Commoning Culture, dipandu oleh Josephine. Dalam sesi ini, peserta dibagi ke dalam kelompok berdasarkan pulau atau wilayah asal. Mereka diminta mendiskusikan pose atau gaya tubuh yang merepresentasikan identitas, pengalaman, dan simbol dari daerah masing-masing. Pose tersebut bukan sekadar visual, melainkan medium kampanye—cara lain menyuarakan keresahan yang kerap sulit disampaikan melalui kata-kata.

Doc.Akar: Josephine sedang mengisi sesi Commoning Culture sambil memberikan gambaran kampanye dalam bentuk lain yang lebih hidup dan kreatif salah satunya foto pose yang memiliki makna dan filosofi

Setiap kelompok kemudian menampilkan pose mereka di hadapan seluruh peserta, lengkap dengan penjelasan maknanya. Setelah itu, seluruh pose diperagakan secara bersamaan. Peserta juga memilih slogan yang akan ditampilkan bersama pose tersebut. Hasilnya adalah poster kolektif yang akan digunakan dalam peringatan Hari Perempuan Internasional. Sesi siang ditutup dengan sambutan penutup dari Bu Titiek dan ulasan kepuasan peserta terhadap seluruh rangkaian kegiatan selama empat hari. Sekitar pukul empat sore, peserta dipulangkan ke rumah inap masing-masing untuk beristirahat.

Doc.Akar: Peserta berkumpul dalam malam puncak api unggun dan penampilan seni dari masing-masing daerah

Namun perjumpaan belum benar-benar berakhir. Pukul 19.30, peserta kembali dijemput dan berkumpul di GSG Desa Bandung Jaya. Malam itu menjadi penutup yang penuh perayaan. Pentas seni digelar, menampilkan pertunjukan khas dari daerah masing-masing peserta. Acara dibuka oleh panitia, dilanjutkan dengan penyalaan api unggun secara simbolik. Di sekitar api unggun, sesi tukar kado dan cendera mata berlangsung hangat. Setelah itu, satu per satu peserta tampil mempersembahkan seni dari daerahnya—puisi, tarian tradisional, hingga nyanyian dalam bahasa daerah, dari Aceh hingga Papua. Malam penutupan diakhiri dengan momen berpamitan antara peserta, panitia, dan warga lokal. Konferensi pun resmi berakhir. Para peserta kembali ke rumah inap untuk beristirahat, bersiap pulang ke daerah asal masing-masing keesokan harinya. Namun suara-suara yang lahir selama empat hari itu tidak ikut pulang dalam diam. Ia telah dirawat, dirumuskan, dipentaskan, dan disatukan—menjadi manifesto, menjadi kampanye, dan menjadi ingatan kolektif yang akan terus hidup dalam perjuangan perempuan adat dan komunitas lokal.

Alamat

Jl. DP Negara 7, No. 123 Rt 21/Rw 04, Kel. Pagar Dewa, Kec. Selebar, Kota Bengkulu, Kode Pos. 38216

Language

 - 
Arabic
 - 
ar
Bengali
 - 
bn
German
 - 
de
English
 - 
en
French
 - 
fr
Hindi
 - 
hi
Indonesian
 - 
id
Portuguese
 - 
pt
Russian
 - 
ru
Spanish
 - 
es

Privacy Preference Center