Erwin Basrin
Tahun 2007 David Schlosberg menulis Defining Environmental Justice dan diterbitkan lewat Oxford University Press. Pertanyaan utamanya terdengar sederhana, tapi sebenarnya berat. Apa arti kata adil dalam keadilan lingkungan? Schlosberg menyadari banyak orang memakai istilah ini setiap hari tanpa pernah menjelaskan maknanya. Buku ini lahir untuk mengisi kekosongan itu.
Tesis utama Schlosberg jelas. Keadilan lingkungan tidak cukup dipahami sebagai pembagian beban dan manfaat. Keadilan punya banyak sisi. Selama kita hanya memakai satu sisi, kita akan salah membaca masalah dan salah merancang solusinya. Tulisan ini akan membedah bagaimana Schlosberg menyusun argumen itu, lapis demi lapis.
Schlosberg mulai dengan satu cara pandang yang sudah lama mendominasi. Selama puluhan tahun, pemikiran tentang keadilan berkiblat pada John Rawls. Keadilan diartikan sebagai distribusi, yaitu bagaimana barang dan beban dibagi dalam masyarakat. Cara pandang ini masuk akal. Banyak gerakan keadilan lingkungan juga memang berangkat dari soal pembagian. Komunitas miskin dan masyarakat adat menanggung lebih banyak racun dan menerima lebih sedikit perlindungan.
Schlosberg tidak menolak distribusi. Ia menerimanya sebagai bagian penting dari keadilan. Tapi ia menunjuk satu kelemahan. Distribusi hanya menjelaskan akibat, bukan sebab. Ia memberi tahu kita siapa menanggung beban paling berat, tapi tidak menjelaskan mengapa beban itu jatuh ke kelompok tertentu terus-menerus. Di titik inilah argumen buku ini mulai bergerak maju.
Schlosberg membangun kerangka berisi empat sisi keadilan. Ia menariknya dari para teoretikus yang berbeda, lalu merangkainya menjadi satu kesatuan. Kekuatan analisisnya bukan pada penemuan sisi-sisi ini, melainkan pada cara ia menunjukkan keempatnya saling mengunci.
Sisi pertama adalah distribusi. Ini soal pembagian yang adil atas risiko dan manfaat lingkungan. Sisi kedua adalah pengakuan. Schlosberg mengambil ide ini dari Iris Young, Nancy Fraser, dan Axel Honneth. Ketidakadilan distribusi sering berakar pada penghinaan terhadap identitas suatu kelompok. Ketika sebuah komunitas dianggap rendah, mudah saja menempatkan limbah di dekat mereka. Pengakuan menjawab akar yang tidak terjangkau oleh distribusi.
Sisi ketiga adalah partisipasi. Keadilan menuntut orang yang terdampak ikut memutuskan, bukan sekadar diberi tahu. Sisi keempat adalah kapabilitas. Schlosberg memakai gagasan Amartya Sen dan Martha Nussbaum. Keadilan tidak berhenti pada barang yang diterima. Yang penting adalah apakah orang benar-benar mampu mengubah barang itu menjadi hidup yang layak. Sebuah komunitas bisa saja menerima ganti rugi uang, tapi tetap kehilangan kemampuan untuk hidup sebagaimana mereka inginkan.
Analisis Schlosberg menunjukkan keempat sisi ini bekerja sebagai satu rangkaian. Kurang pengakuan melahirkan pembagian yang timpang. Tanpa partisipasi, kelompok lemah tidak bisa memperbaiki posisinya. Tanpa kapabilitas, distribusi yang adil pun bisa gagal memberi hidup yang baik. Inilah inti sumbangan buku ini. Ia mengubah keadilan dari satu titik menjadi sebuah jaring.
Ada satu langkah penting yang membuat buku ini berbeda. Sebagian besar teori keadilan menempatkan individu sebagai satuan utama. Keadilan dihitung per orang. Schlosberg menunjukkan bahwa gerakan di lapangan tidak bekerja seperti itu. Mereka menuntut keadilan untuk komunitas, bukan hanya untuk pribadi.
Langkah ini punya akibat besar. Sebuah komunitas adat bisa kehilangan hutan tempat mereka hidup. Kerugiannya bukan sekadar penjumlahan kerugian tiap anggota. Yang hilang adalah kemampuan komunitas itu untuk bertahan sebagai komunitas. Dengan memasukkan komunitas ke dalam analisis, Schlosberg membuat teori keadilan lebih cocok dengan kenyataan gerakan keadilan lingkungan. Di sini terlihat metode kerjanya. Ia memakai teori untuk membaca gerakan, lalu memakai gerakan untuk memperbaiki teori.
Bagian paling berani dari buku Schlosberg ada pada upaya menyatukan dua bidang yang selama ini terpisah. Keadilan lingkungan bicara soal keadilan antarmanusia dalam urusan lingkungan. Keadilan ekologis bicara soal keadilan antara manusia dan alam, termasuk hewan dan ekosistem.
Dua literatur ini biasanya berjalan sendiri-sendiri dan jarang saling menyapa. Schlosberg berargumen bahwa keempat sisi keadilan tadi bisa dipakai untuk keduanya. Alam bukan hanya soal pembagian sumber daya. Alam juga bisa diberi pengakuan. Sistem ekologi punya kapabilitas, yaitu kemampuan untuk berfungsi dan berkembang. Dengan memakai bahasa yang sama, Schlosberg menutup jurang antara dua bidang itu. Ia menyebut Rachel Carson dan Silent Spring sebagai contoh. Carson dulu menyatukan kesehatan manusia dan nasib alam dalam satu kerangka. Schlosberg ingin melakukan hal serupa untuk keadilan.
Argumen ini juga melawan pendapat yang menyarankan gerakan keadilan lingkungan dipersempit agar tetap fokus. Bagi Schlosberg, justru keluasan itu yang menjadi kekuatan. Kerangka yang lebar memungkinkan banyak isu dan banyak kelompok bergabung dalam satu perjuangan.
Setelah memperluas makna keadilan, Schlosberg menghadapi masalah baru. Kalau keadilan punya banyak sisi dan banyak penafsir, bagaimana semua itu bisa disatukan? Jawabannya bukan satu teori tunggal. Schlosberg memilih pendekatan pluralis. Ia menyebutnya persatuan tanpa penyeragaman.
Maksudnya begini. Setiap kelompok boleh menekankan sisi keadilan yang berbeda sesuai keadaan mereka. Yang satu menonjolkan distribusi, yang lain menonjolkan pengakuan. Mereka tetap bisa berjalan bersama tanpa harus dipaksa seragam. Schlosberg menutup analisisnya dengan gagasan keterlibatan reflektif. Orang dari latar yang sangat berbeda bisa saling memahami lewat cerita dan partisipasi. Ia memakai protes WTO di Seattle sebagai contoh. Beragam orang datang dengan kisah ketidakadilan masing-masing, lalu menemukan rasa solidaritas. Tantangan terakhirnya, kata Schlosberg, adalah membuat keterlibatan semacam itu melembaga di ranah negara dan ruang publik.
Inti analisis Schlosberg bisa diringkas dalam satu kalimat. Keadilan lingkungan adalah jaring, bukan titik. Ia menyangkut pembagian, tapi juga pengakuan, partisipasi, dan kemampuan untuk hidup baik. Ia berlaku untuk individu, untuk komunitas, dan bahkan untuk alam itu sendiri.
Kekuatan Schlosberg terletak pada cara ia menghubungkan teori abstrak dengan tuntutan gerakan nyata. Schlosberg tidak memaksakan rumus dari atas. Ia mendengarkan praktik di bawah, lalu menatanya menjadi kerangka yang utuh. Hasilnya adalah cara pandang yang lebih kaya tentang keadilan. Di tengah krisis iklim hari ini, ajakan untuk memperluas makna keadilan terasa makin penting. Pertanyaan siapa dapat apa tetap berlaku. Tapi Schlosberg menambahkan tiga pertanyaan lain yang sama pentingnya. Siapa yang diakui, siapa yang ikut memutuskan, dan siapa yang diberi kesempatan untuk hidup baik.
