Bukittinggi, 18–20 November 2025 — Akar Global Inisiatif menyelenggarakan Workshop Penyusunan Monitoring–Evaluasi–Learning (MEL) Decolonising di Santika Hotel Bukit Tinggi. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menghadirkan Dewan Pengawas Akar Global Inisiatif Dr. Titik Kartika Hendrastiti, Dr. Septri Widiono, dan dibantu oleh Prof. Dr. Afrizal, MA dari Universitas Andalas serta diikuti oleh 13 staf eksekutif dari berbagai divisi program
Workshop ini menjadi momentum penting bagi Akar Global Inisiatif untuk merumuskan pendekatan evaluasi yang lebih adil, reflektif, dan memulihkan suara komunitas. MEL Decolonising dimaknai sebagai upaya menggeser praktik evaluasi dari cara pandang teknokratis menuju kerangka yang menghargai pengetahuan lokal, pengalaman adat, relasi sosial, serta dinamika spiritual ekologis komunitas akar rumput.
Dalam presentasinya, Dr. Titik Kartika Hendrastiti menegaskan bahwa evaluasi harus kembali ke tujuan utamanya yakni melihat perubahan sosial secara utuh. “Dekolonisasi MEL bukan sekadar mengganti ukuran. Ini soal mengubah cara kita memahami pengetahuan, pengalaman, dan nilai komunitas,” ujarnya.
Dr. Septri Widiono menekankan pentingnya refleksi institusional dalam proses ini. “Organisasi perlu punya keberanian meninjau praktiknya sendiri. Evaluasi harus menjadi cermin yang jujur, bukan sekadar alat pelaporan,” katanya. Ia menyampaikan bahwa MEL yang dekolonial harus menjamin ruang aman bagi komunitas untuk menyampaikan pengalaman apa adanya, tanpa tekanan dari standar donor atau target yang tidak relevan secara lokal.
Sementara itu, Prof. Dr. Afrizal, MA menyoroti pentingnya membangun hubungan setara antara pendamping dan masyarakat. “Relasi kuasa harus dibaca dengan jernih. Jika evaluasi dilakukan secara egaliter, maka hasilnya akan lebih akurat sekaligus memperkuat kepercayaan,” jelasnya.
Sebagai bagian penting dari proses, Pramasty Ayu Kusdinar, Manager Strategis Akar Global Inisiatif, memberikan penekanan khusus pada dua prinsip utama Dekolonising MEL: Epistemic Justice dan Participatory Sense-Making. Menurut Pramasty, keadilan pengetahuan adalah fondasi transformasi MEL.
“Pengalaman adat, tradisi lokal, dan narasi komunitas harus diperlakukan setara dengan data statistik,” ujarnya. “Dalam praktik teknokratis, angka dianggap paling sah. Padahal komunitas memiliki ingatan kolektif, kosmologi, dan praktik ekologis yang jauh lebih kaya daripada variabel survei.”
Ia menambahkan bahwa melekatkan kembali epistemologi adat ke dalam kerangka evaluasi berarti memperbaiki ketimpangan historis yang telah lama memarginalkan pengetahuan lokal. “Keadilan pengetahuan berarti menempatkan suara warga di posisi pusat, bukan sekadar pelengkap laporan donor.”

Pramasty juga menegaskan peran penting Participatory Sense-Making dalam evaluasi. “Komunitas bukan responden. Mereka adalah penafsir utama dari apa yang disebut ‘dampak’,” tegasnya. “Mereka membaca perubahan berdasarkan pengalaman hidup mereka sendiri—bukan berdasarkan indikator yang datang dari luar.”
Dalam proses sense-making ini, warga diajak bersama-sama membaca data, memeriksa cerita, dan menyimpulkan mana perubahan yang dianggap berarti bagi kehidupan mereka. Menurutnya, “Dekolonising MEL adalah proses belajar bersama. Ketika kita mendengarkan warga menafsirkan hasil, di situ terjadi pemulihan martabat pengetahuan.”
Selama workshop, peserta melakukan pemetaan indikator, diskusi kelompok, simulasi evaluasi berbasis narasi, serta merumuskan kerangka awal Tool MEL Decolonising Akar Global Inisiatif. Tool ini akan diuji coba di wilayah dampingan seperti komunitas adat hutan, kelompok pesisir, dan organisasi perempuan serta pemuda di Bengkulu dan Sumatera Barat.
Workshop ini menandai langkah besar Akar Global Inisiatif menuju praktik evaluasi yang lebih adil, partisipatif, dan benar-benar berpihak pada komunitas.
