Pagi ini langit Bandung Jaya sempat lebih cerah dan hangat dari biasanya. Matahari masuk dan menghangatkan sebagian lantai rumah yang sudah beberapa hari ini kami tumpangi. Sejuk yang biasanya karena diselimuti hujan berganti dengan hangat dari semangat yang menjalar tak sudah-sudah dari Gedung yang besok akan ramai oleh orang-orang yang datang dari seluruh penjuru nusantara dan bagian bumi lainnya.
Tapi cerah itu tak selalu menghangatkan, baru saja saat peserta dari Lebong tiba di Rumah Bu Supri untuk perhentian sejenak sebelum diantar ke Homestay lainnya, langit langsung mendung bersimbahkan air hujan bak tak ada kira-kiranya. Namun syukurlah, hujan ini turun tepat kami sudah mempersiapkan segala hal di ruang terbuka. Memasang Photobooth, Poster, penunjuk arah, merapikan posisi meja dan hal lainnya sebelum Gladi bersih dilakukan. Ya, kami menyelesaikan itu semua tepat sebelum hujan lebih deras dan lebih lama mengguyur pucuk Sengkuang. Saat aku mengetik ini, Hujan deras bertemankan angin kencang yang membawa tampias itu menyentuh kulitku.
Saat ketikan ini sedang aku buat, Bis Peserta nasional dan internasional itu sedang menuju ke Kabawetan. Cuaca dan suhu seolah bekerjasama memberikan bukti seberapa dingin dan betahnya mereka akan menikmati segala hal yang bisa dinikmati dengan mata telanjang di Desa ini. Semua persiapan dirapikan sematang mungkin. Sedikit cekcok atau lempar-lemparan saran serta ide mengalahkan gema musik dari speaker ruangan. Ibu-Ibu ini sedang berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dan efisien. Wajah mereka nampak rindu lelap sejenak jam istirahat siang, namun nyatanya persiapan ini sudah hampir tiba dipucuk hidung. Besok perhelatan akbar harus sudah terealisasikan. Segala rapat, persiapan dan cekcok ria harus sudah menjadi sebuah ekseskusi terbaik yang berusaha diberikan.
Sebelum jam Gladi bersih dimulai, aku masih sempat mampir mengajak Ibu Sukmawati dan Ibu Ismilhasanah yang datang dari Lebong itu untuk bincang sejenak. Mereka membawa berbagai hasil olahan bumi dan separuh mentah yang akan disuguhkan pada hari pesta pangan lokal nantinya. Bu Sukmawati yang berasal dari Kota Baru Santan duduk tersenyum hangat, wajah lelah habis perjalanan jauhnya kentara sekali. Dia merapikan kerudungnya yang sedikit basah sehabis solat tadi. Ditangannya tergenggam kopi hangat yang disuguhkan tuan rumah
“Kami berombongan berangkat jam 7 tadi pagi mbak. Kami juga bawa Sangrai kopi, kerupuk nasi, dan semuanya baru kami bungkus tadi malam. Saya senang sekali bisa dapat kesempatan besar ini. Sebelumnya saya menyarankan anggota kelompok lain juga untuk ikut, tapi mereka ada kesibukan terutama mengurus anak, jadi kali ini saya lagi yang datang” Ujarnya masih dengan tubuh yang nampak sedang berusaha dibuat merasa lebih hangat. Ibu Sukma ini tinggal di Desa Kota Baru Santan, daerah itu adalah surga bagi pesta panen padi, sejuknya juga terasa, tapi tak semembungkus tulang ini.
Aku mengangguk-angguk pelan tanda menyimak, kupandangi wajah itu mendalam. Menikmati inci demi inci kebahagiaan yang sedang dia pancarkan. Ku pegangi tangannya yang kosong kedinginan “Apa yang ibu harapkan dari acara ini?” Aku melontarkan pertanyaan itu sekenanya. Selain dari kepo, karena sebenarnya ini juga tuntutan catatan menulis yang tidak akan lengkap rasanya kalau pertanyaan itu tidak kutanyakan. Entahlah, aku merasa bahwa pertanyaan itu perlu, pertanyaan itu jendela melihat semua apa yang dia rasakan menyambut hari-hari ICW 2026 kita kedepannya.
“Saya hanya berharap sederhana mbak. Cuma mau menjadi orang yang mendapat banyak ilmu, bertemu dan berteman dengan banyak orang apalagi ini datang dari luar daerah. Saya juga berharap ini bisa menjadi sesuatu yang dapat saya jadikan oleh-oleh untuk kelompok kami kedepannya”Ujar Bu Sukma sambil merapikan jaketnya. Sempat pula kutanyakan bagaimana respon suaminya untuk aktivitas yang menghabiskan waktu hampir seminggu jauh dari rumah itu. Dia tersenyum manis menjawab sambil menepuk pelan telapak tangan yang ku letak diatas pahaku
“Suami mengizinkan mbak, dia bahkan tadi pagi mengantar dan membawakan barang langsung ke mobil” jawaban itu seolah mempertegas tidak ada arah melintang yang jadi alasan acara ini tidak menyenangkan. Semua pihak seolah mendukung bahwa kegiatan ini memang sudah bisa kita adakan dengan semangat yang megah dan meriah.
Tak lama berselang, Bu Ismilhasanah dari Uram Jaya Lebong datang duduk kedekat kami. Ruang tamu Bu Supri semakin penuh karena ada juga ibu-ibu dari Desa ini yang sedang mempersiapkan beberapa hal untuk kegiatan besok, diantara mereka ada kelompok yang sedang mempersiapkan penampilan tari dan tentu ikut dalam gladi bersih. Dia bercerita singkat bahwa kelompoknya berangkat sejak jam 8 pagi tadi. Mereka juga tidak kalah semangat menyiapkan panganan khas Bengkulu seperti Lemea, Kerupuk Ganepo dari Tepung Beras juga Kue Kembang Goyang.
“Kami Juga buat bingkisan mbak. Khusus dan spesial untuk peserta nanti. Terus, kami mau nyanyi lagu Embong U’em rencananya. Senang sekali kami akan bertemu teman baru, apalagi ini kali pertama saya ke Kepahiang. Bisa Kumpul dan berbagi dengan ibu-ibu lainnya.” Bu Ismi tidak banyak bicara lagi karena sudah sibuk bersiap setelah dipanggil panitia untuk berangkat menuju homestaynya.
Setelah hujan mereda, aku langsung berangkat ke GSG. Group Panitia memberikan informasi bahwa Gladi bersih akan dimulai. Saat aku tiba, ruangan sudah penuh dengan susunan Dol dan anak-anak bujang yang berdiri tak beraturan sambil tangan mereka mengetuk-ngetuk di udara. Gerakan yang melambangkan mereka sedang mengingat ketukan saat Dol di tabuhkan.

Saat sesi genderang tabuh Dol itu membahana, aku benar-benar selalu sadar, Dol adalah alat musik yang memberikan energi semangat berapi-api. Selepas tabuh Dol itu dibawa memutari dan menggema penuh di GSG, kelompok menari turut melenggang ke tengah lokasi yang sengaja di kosongkan. Tapi ternyata, kali ini mereka tampak tidak puas, berkali-kali ada ketukan yang salah atau mulut mereka berkomat-kamit mengobrol ringkas dalam gerakan. Ya, suara musik itu tidak memberikan ketukan yang sempurna. Speaker tidak mengeluarkan suara penyanyi dari video youtube dengan jelas, hanya ada musik berdengking yang menggesek telinga. Namun mereka tetap berusaha menyelesaikan tarian itu sampai akhir. Kelompok itu semangat bercerita bahwa sudah 1 bulan latihan. Inisiatif yang muncul bersama dengan ide kreasi yang dibuat sendiri dimaksudkan untuk memperkenalkan budaya Kepahiang, gerakan yang sudah mereka latih 3-5 kali dalam seminggu.

“Kami loh mau tampilin mbak, bahwa kita perempuan ini gak cuma bisa berkebun. Kita juga bisa bergoyang dan berdendang, kita bisa senang-senang. Saking semangatnya, hampir tiap malam belakangan ini kami latihan gak ada henti mbak. Biar bisa tampilin yang terbaik. Makanya, semoga speaker nya bisa disesuaikan dan diperbaiki. Ini penampilan yang jarang bisa kami tunjukkan, kami mau tampilkan yang terbaik”… kalimat itu bersahut-sahutan dari semua ibu-ibu yang ada dikelompok tari tersebut.
Gladi bersih ditutup dengan segala upaya perbaikan, kritik dan saran yang berusaha dikelola dengan bijak demi hari H yang tidak mengecewakan. Sore datang bersama hujan yang semakin deras berteman kabut dan dering gawai yang tak usai. Foto pemberitahuan keberangkatan bis peserta semakin membuat hati kami berdegup tak sabaran. Tuan rumah Homestay sudah menunggu mereka dirumah masing-masing. 4 hari kedepan, para tamu itu menjadi warga lokal. Masih ada PR yang sedang kami coba selesaikan, tiba-tiba air rembes membasahi lantai ruangan. Doa semakin kencang coba kami panjatkan ke langit. Semoga besok, cahaya matahari lebih terang dari hari ini. Hangat itu, adalah bagian dari harapan dari segala upaya yang sudah selama ini coba kami kerahkan. Catatan hari ini aku cukupkan dulu, dingin semakin menjalar ketubuhku yang sejak pagi tadi belum mandi. Semua panitia juga sibuk menembus hujan untuk mengantarkan peserta ke rumah mereka masing-masing. Besok, kita sambut hari yang akan menjadi sejarah besar terutama bagi perempuan Sengkuang ini.(NL)
