Erwin Basrin
Benih adalah benda kecil yang sering kita abaikan. Ia bisa lebih ringan daripada sehelai rambut. Namun di dalamnya tersimpan sebuah pohon utuh yang menunggu waktunya. Henry David Thoreau melihat keajaiban dalam benda kecil ini. Ia menjadikannya pusat dari karya terakhirnya.
“Meski saya tidak percaya sebuah tanaman akan tumbuh di tempat yang tak pernah ada benihnya, saya sangat percaya pada sebuah benih. Yakinkan saya bahwa ada benih di sana, dan saya siap menanti keajaiban.” — Henry David Thoreau
Kalimat itu menjadi judul dan jiwa buku ini. Tulisan saya kali ini merangkum isinya dengan bahasa sehari-hari. Tujuannya membuat gagasan Thoreau mudah dipahami siapa saja, sekaligus menjaga rasa kagumnya pada alam.
Banyak orang mengenal Thoreau lewat buku Walden. Buku itu bercerita tentang hidup sederhana di tepi sebuah danau. Namun Thoreau punya sisi lain yang jarang dibahas. Ia juga seorang pengamat alam yang tekun.
Pada akhir hidupnya, Thoreau menulis sebuah naskah panjang berjudul The Dispersion of Seeds, yang berarti penyebaran benih. Ia mengerjakannya antara tahun 1856 dan 1861. Ia belum sempat menyelesaikannya. Thoreau meninggal pada tahun 1862. Naskah itu lalu tersimpan selama lebih dari seratus tahun.
Selama itu, banyak kritikus sastra meremehkan tulisan ini. Mereka menganggapnya terlalu teknis dan membosankan. Mereka kecewa karena Thoreau sang penyair berubah menjadi Thoreau sang pengamat. Naskah ini baru terbit pada tahun 1993 dengan judul Faith in a Seed. Ketika akhirnya terbaca, banyak ilmuwan terkejut. Ternyata Thoreau jauh mendahului zamannya.
Thoreau ingin menjawab satu pertanyaan sederhana. Dari mana datangnya hutan? Kita sering melihat hutan baru tumbuh setelah hutan lama ditebang. Kita menganggapnya hal biasa. Kita jarang bertanya bagaimana itu bisa terjadi.
Pada masa Thoreau, ada satu kepercayaan yang luas dianut. Orang percaya sebagian tanaman bisa muncul begitu saja tanpa benih. Mereka menyebutnya kemunculan spontan. Bahkan laporan ilmiah resmi pada zaman itu memuat anggapan ini. Misalnya, ada keyakinan bahwa jika kita menebang hutan pinus, pohon ek bisa muncul sendiri di tempatnya, seolah dari ketiadaan.
Thoreau menolak gagasan itu. Selama bertahun-tahun ia mengamati alam di sekitarnya. Ia tidak pernah menemukan satu pun bukti tanaman tumbuh tanpa benih. Maka ia mengambil sikap tegas.
Inilah tesis utama buku ini. Setiap hutan yang tumbuh secara alami berasal dari benih. Tidak ada pohon yang muncul dari ketiadaan.
Thoreau menulis dengan percaya diri. Jika sebuah hutan tumbuh di tempat yang sebelumnya tidak ditumbuhi jenis itu, ia tidak ragu mengatakan bahwa hutan itu berasal dari benih. Lalu ia menambahkan kalimat yang tajam. Jika ada yang mengaku hutan itu muncul dari sesuatu yang lain, atau dari ketiadaan, maka beban pembuktian ada di tangan orang itu.
Sikap ini terdengar biasa bagi kita sekarang. Namun pada zamannya, ini adalah pernyataan berani. Thoreau menuntut bukti, bukan dongeng. Ia memindahkan tanggung jawab kepada mereka yang percaya pada keajaiban tanpa sebab. Inilah cara berpikir seorang ilmuwan sejati.
Jika setiap pohon berasal dari benih, muncul pertanyaan lanjutan. Bagaimana benih itu sampai ke tempat yang jauh dari induknya? Thoreau menjawabnya dengan teliti. Menurutnya, benih disebarkan oleh tiga kurir utama, yaitu angin, air, dan hewan. Benih ringan seperti pinus dan mapel dibawa angin dan air. Benih berat seperti biji ek dan kacang dibawa hewan.
Thoreau mengamati benih pinus dengan sangat cermat. Setiap benih punya sayap tipis yang panjang. Ia menggambarkan sayap itu seperti burung kecil dalam sangkar yang memegang benih di paruhnya, menunggu saat untuk terbang. Saat matahari dan angin membuka buah pinus, terdengar bunyi berderak. Benih pun lepas dan terbang dibawa angin.
Ia juga terpesona pada benih kapas alang, yaitu milkweed. Ketika buahnya pecah, benang-benang halusnya merekah seperti pegas. Benih itu lalu melayang seperti balon, naik makin tinggi, sampai hilang dari pandangan. Thoreau menulis bahwa ia tertarik pada nasib setiap petualangan kecil yang dikirim oleh musim gugur.
Thoreau mengamati pohon willow hitam di tepi sungainya. Benih halusnya jatuh ke air dan mengapung. Benih itu hanyut, lalu tersangkut di tepi sungai, dan dalam beberapa hari tumbuh menjadi tunas. Yang lebih menarik, ranting willow ini mudah patah. Ranting yang patah ikut hanyut, lalu menancap di tepian dan tumbuh menjadi pohon baru. Thoreau mencatat satu ironi yang indah. Es yang menjatuhkan dan mematahkan pohon ini justru menyebarkannya lebih luas.
Bagi benih yang berat, hewan adalah kurir terbaik. Tupai mengumpulkan biji ek dan kacang untuk persediaan musim dingin. Mereka mengubur biji itu di dalam tanah. Sebagian biji lupa diambil. Biji yang terlupakan itulah yang kelak tumbuh menjadi pohon. Burung juga berperan. Mereka memakan buah, lalu menjatuhkan bijinya di tempat yang jauh lewat kotorannya. Tanpa sadar, hewan-hewan ini menanam hutan.
Dari pengamatan ini, Thoreau memecahkan sebuah teka-teki yang lama membingungkan para petani. Mengapa setelah hutan pinus ditebang, sering muncul pohon ek? Padahal tidak ada pohon ek dewasa di sekitarnya.
Jawaban Thoreau cerdas dan masuk akal. Tupai sering menyembunyikan biji ek di bawah naungan pohon pinus. Tempat itu aman dan teduh. Biji ek diam-diam tumbuh kecil di bawah pinus, tetapi tertekan oleh bayangan pohon besar. Ketika pinus ditebang dan cahaya masuk, pohon ek muda itu langsung tumbuh cepat. Jadi pohon ek tidak muncul dari ketiadaan. Ia sudah ada di sana sejak lama, menunggu kesempatan.
Inilah yang kini disebut suksesi hutan, yaitu pergantian jenis tumbuhan secara bertahap. Thoreau menjelaskannya jauh sebelum istilah itu populer. Ia menunjukkan bahwa hutan bukan benda diam. Hutan adalah proses yang terus berjalan.
Pada awal tahun 1860, Thoreau memperoleh buku Charles Darwin yang berjudul The Origin of Species. Buku itu baru saja terbit dan mengguncang dunia. Thoreau membacanya dengan saksama dan menyalin banyak bagiannya.
Darwin ternyata juga sangat tertarik pada penyebaran benih. Bab-bab awal bukunya membahas bagaimana tumbuhan dan hewan menyebar ke seluruh muka Bumi. Bagi Thoreau, ini seperti menemukan teman sepemikiran. Darwin menunjukkan bahwa minat Thoreau pada benih bukan hal sepele. Minat itu terhubung dengan pertanyaan besar tentang asal-usul kehidupan.
Karena itu, banyak ahli kini menyebut Thoreau sebagai ahli ekologi lapangan pertama di Amerika yang dipengaruhi Darwin. Gagasannya tentang hubungan tumbuhan dan hewan baru benar-benar berkembang dalam ilmu ekologi lebih dari seratus tahun kemudian. Thoreau melihatnya lebih dahulu, hanya dengan berjalan kaki di sekitar rumahnya.
Yang membuat karya ini kuat adalah caranya bekerja. Thoreau tidak puas hanya menebak. Ia menguji, mengukur, dan menghitung.
Ia mengukur jarak antara pohon-pohon sejenis. Ia menghitung dan menimbang benih. Ia mengapungkan benih di air untuk melihat apakah ia bisa hanyut. Ia memperhatikan di mana benih menumpuk, seperti di lubang hewan dan di parit. Ia mengamati seberapa jauh burung membawa buah. Cara kerja ini sangat mirip dengan ekologi modern.
Thoreau juga punya keyakinan yang menarik. Ia tidak perlu pergi ke tempat liar yang jauh untuk menemukan alam yang menakjubkan. Ia menulis bahwa ia tidak akan menemukan kebuasan yang lebih besar di belantara Labrador daripada di sudut kecil kota kelahirannya, Concord. Bagi Thoreau, keajaiban alam ada di halaman belakang rumah, asal kita mau memperhatikan.
Judul buku ini menyimpan dua lapis makna. Lapis pertama bersifat ilmiah. Thoreau percaya pada hukum sebab dan akibat. Ada benih, maka ada tanaman. Tidak ada keajaiban tanpa sebab. Ini adalah iman pada keteraturan alam.
Lapis kedua bersifat lebih dalam. Thoreau percaya pada kekuatan hal-hal kecil. Sebuah benih yang nyaris tak terlihat bisa menjadi pohon besar yang mengubah seluruh lanskap. Baginya, alam selalu sibuk menanam dirinya sendiri. Ia menulis bahwa kita hidup di dunia yang sudah ditanami, tetapi juga masih terus ditanami seperti pada awal mula.
Thoreau juga mengagumi kesederhanaan cara kerja alam. Menurutnya, alam selalu memilih cara yang paling sederhana untuk mencapai tujuannya. Sebuah sayap tipis sudah cukup untuk menerbangkan benih ke tempat baru. Tidak ada yang sia-sia, dan tidak ada yang berlebihan.
Faith in a Seed mengajarkan kita melihat dunia dengan lebih sabar. Hal yang tampak biasa, seperti benih yang melayang atau tupai yang mengubur kacang, ternyata menyimpan cerita besar. Hutan yang kita lihat hari ini adalah hasil kerja kurir-kurir kecil selama bertahun-tahun.
Pesan Thoreau juga terasa relevan di masa kini. Alam punya kemampuan luar biasa untuk memperbaiki dirinya, asal kita memberinya ruang dan waktu. Memahami cara benih menyebar membantu kita memulihkan hutan yang rusak. Ini bukan sekadar ilmu lama. Ini pengetahuan yang berguna untuk menjaga Bumi.
Pada akhirnya, Thoreau mengajak kita berlatih memperhatikan. Berjalanlah perlahan. Lihatlah benda kecil di tanah. Tanyakan dari mana ia datang dan ke mana ia pergi. Dengan cara itu, kita pun bisa belajar memiliki iman pada sebuah benih.
Catatan tentang sumber
Esai ini disusun berdasarkan buku Henry D. Thoreau, Faith in a Seed: The Dispersion of Seeds and Other Late Natural History Writings, yang disunting oleh Bradley P. Dean (Island Press, 1993).
