Erwin Basrin
Coba bayangkan satu pertanyaan yang terdengar aneh. Mungkinkah Karl Marx, tokoh yang dikenal lewat teori kelas dan kapital, ternyata juga seorang pemikir lingkungan? Bagi banyak orang, jawabannya pasti tidak. Marx sering dicap sebagai pemikir yang hanya peduli ekonomi dan industri, bukan alam.
John Bellamy Foster menantang anggapan itu. Dalam bukunya yang terbit tahun 2000, Marx’s Ecology, ia membuktikan hal sebaliknya. Menurut Foster, kepedulian Marx terhadap alam bukan tempelan kecil. Kepedulian itu tertanam dalam di seluruh cara berpikirnya. Bahkan Foster menyebut pandangan dunia Marx bersifat ekologis secara mendalam dan sistematis.
Tulisan ini menelusuri akar ekologi dalam pemikiran Karl Marx, berdasarkan buku Marx’s Ecology karya John Bellamy Foster dan saya akan ajak pembaca untuk menelusuri argumen utama buku itu dengan bahasa yang mudah, tentu saja untuk kepentingan edukasi, ilmu pengetahuan, dan pemenuhan khazanah kebebasan akademik, tanpa maksud menyebarkan ideologi politik tertentu. Kita akan melihat dari mana ekologi Marx berasal, apa gagasan paling pentingnya, dan mengapa itu masih relevan hari ini.
Menariknya, Foster tidak selalu berpikir begini. Di kata pengantar bukunya, ia mengaku pernah punya pandangan berbeda. Dulu ia mengira wawasan ekologi Marx hanya bersifat sampingan, bukan inti pemikirannya.
Lalu pikirannya berubah pelan-pelan. Beberapa teman dan kolega menunjuk bagian-bagian tulisan Marx yang membahas pertanian, tanah, dan peredaran zat hara. Foster mulai membaca ulang. Ia sadar ada cerita besar yang selama ini terlewat. Buku ini adalah hasil dari perubahan pikiran itu.
Foster bahkan menemukan sesuatu yang ia gambarkan seperti kisah detektif. Berbagai petunjuk yang berserakan ternyata mengarah pada satu sumber yang sama dan mengejutkan. Sumber itu adalah filsuf materialis kuno dari Yunani bernama Epikuros. Kita akan kembali ke tokoh ini sebentar lagi.
Untuk paham ekologi Marx, kita harus paham satu kata kunci dulu, yaitu materialisme. Kata ini sering disalahartikan sebagai sikap gila harta. Padahal dalam filsafat, artinya jauh berbeda.
Materialisme adalah pandangan bahwa alam dan materi datang lebih dulu. Dunia fisik itu nyata dan ada lebih dulu daripada pikiran kita. Lawannya adalah idealisme, yang menempatkan ide, roh, atau pikiran sebagai yang utama. Foster mengutip cara sederhana untuk membedakan keduanya lewat satu pertanyaan tua: apakah dunia diciptakan, atau sudah ada selamanya? Yang menjawab roh lebih dulu masuk kubu idealisme. Yang menjawab alam lebih dulu masuk kubu materialisme.
Marx memilih materialisme. Tetapi bukan jenis yang kaku. Ada satu kesalahpahaman yang perlu dibuang. Materialisme tidak berarti dunia berjalan seperti mesin yang sudah ditentukan sepenuhnya. Marx menolak gambaran kaku itu. Baginya, alam dan manusia berkembang dalam proses yang terbuka, penuh kemungkinan, dan saling memengaruhi.
Inilah temuan paling khas yang saya baca dari buku ini. Foster melacak materialisme Marx sampai ke Epikuros, filsuf Yunani yang hidup ribuan tahun lalu. Bukan kebetulan. Marx menulis disertasi doktornya tentang Epikuros.
Apa yang menarik dari Epikuros? Ia menolak penjelasan bahwa segala hal di alam terjadi demi tujuan ilahi tertentu. Pandangan ini disebut anti-teleologis. Artinya, alam tidak berjalan menuju satu tujuan yang sudah dirancang dari atas. Alam berjalan menurut hukumnya sendiri.
Tetapi Epikuros bukan penganut nasib buta. Ia percaya manusia tetap punya kebebasan. Materialismenya justru menjadi dasar bagi gagasan kebebasan manusia. Perpaduan inilah, materi dan kebebasan, yang kelak diserap dan dikembangkan oleh Marx. Foster menunjukkan bahwa Epikuros adalah benang merah yang menghubungkan banyak pemikir besar, dari Bacon, Kant, Hegel, sampai Marx sendiri.
Di sinilah Foster membuat poin yang berani. Banyak teori lingkungan modern menuduh sains dan materialisme sebagai biang kerusakan alam. Foster berpendapat sebaliknya. Justru materialisme dan sains itulah yang melahirkan cara berpikir ekologis.
Bagaimana bisa? Selama berabad-abad, pandangan dunia yang berkuasa bersifat memusatkan segalanya pada manusia. Bumi dianggap pusat alam semesta. Semua makhluk diciptakan terpisah dan diatur dalam tingkatan tetap, dengan manusia di posisi istimewa. Pandangan ini disebut antroposentrisme, yaitu menempatkan manusia sebagai pusat segala hal.
Lalu sains datang dan menggoyang gambaran itu satu per satu. Bumi ternyata bukan pusat alam semesta. Waktu dan ruang ternyata sangat luas dan dalam. Manusia ternyata berbagi nenek moyang dengan kera lewat pohon evolusi yang sama. Setiap penemuan ini menggeser manusia dari kursi istimewanya.
Hasilnya justru penting bagi ekologi. Manusia tidak lagi bisa dianggap berdiri di luar atau di atas alam. Manusia adalah bagian dari alam. Yang penting kemudian bukan dominasi manusia, melainkan bagaimana hubungan timbal balik antara manusia dan dunia tempat ia hidup.
Buku ini disusun di sekitar dua materialis terbesar abad kesembilan belas, yaitu Marx dan Darwin. Foster menempatkan Marx sebagai fokus utama, tetapi Darwin punya peran besar.

Teori evolusi Darwin memperkuat pandangan materialis. Evolusi menunjukkan bahwa keragaman makhluk hidup tidak butuh perancang dari atas. Spesies berubah melalui proses panjang seleksi alam. Marx sendiri memuji Darwin karena dianggap mematikan gagasan bahwa alam digerakkan oleh tujuan ilahi.
Yang sering dilupakan, kata Foster, adalah pelajaran lanjutannya. Seperti ditegaskan Rachel Carson, banyak orang menerima fakta evolusi tetapi menolak konsekuensinya. Konsekuensinya begini: manusia tunduk pada pengaruh lingkungan yang sama dengan ribuan spesies lain. Kita tidak kebal. Kita terhubung dengan jaring kehidupan yang lebih besar.
Sekarang kita masuk ke bagian yang paling konkret dan paling kuat dari buku ini. Ceritanya dimulai dari tanah dan makanan.
Pada abad kesembilan belas, seorang ahli kimia Jerman bernama Justus von Liebig mempelajari kesuburan tanah. Ia menemukan bahwa tanaman menyerap zat hara tertentu dari tanah, seperti nitrogen dan fosfat. Kalau zat itu terus diambil tanpa dikembalikan, tanah akan miskin dan rusak.
Lalu muncul masalah besar di zaman itu. Hasil panen dari desa dikirim jauh ke kota-kota besar untuk dimakan. Zat hara yang terkandung dalam makanan itu ikut terbawa ke kota. Setelah dimakan, sisanya menjadi limbah di kota, bukan kembali ke ladang asalnya. Jadi tanah desa terus dikuras, sementara kota dipenuhi kotoran dan limbah.
Liebig menyebut cara bertani semacam ini sebagai sistem perampokan. Tanah dirampok zat haranya tanpa pengembalian. Ia menyerukan prinsip yang berbeda, yaitu prinsip pengembalian. Apa yang diambil dari tanah harus dikembalikan ke tanah agar kesuburannya terjaga untuk waktu lama.
Krisis ini sangat nyata. Foster mencatat bagaimana negara-negara berebut pupuk alami. Amerika Serikat bahkan mengesahkan undang-undang pada 1856 yang membenarkan pencaplokan pulau-pulau kecil di seluruh dunia hanya karena pulau itu kaya kotoran burung yang dipakai sebagai pupuk. Tanah yang lelah memicu perebutan sumber daya lintas benua.
Dari masalah tanah inilah lahir gagasan paling penting dalam buku ini. Foster menyebutnya teori retakan metabolik, atau metabolic rift. Istilah ini ia gali dari karya besar Marx, yaitu Kapital.
Mari kita pahami kata metabolisme dulu. Dalam tubuh, metabolisme adalah pertukaran zat yang membuat kita hidup. Kita mengambil makanan, mengolahnya, lalu mengeluarkan sisa. Marx memakai gagasan serupa untuk hubungan manusia dan alam. Lewat kerja, manusia mengambil bahan dari alam, mengolahnya, lalu mengembalikan sesuatu. Pertukaran zat ini, dalam istilah Marx, adalah syarat abadi bagi kehidupan manusia.
Nah, menurut Marx, kapitalisme merusak pertukaran sehat ini. Sistem ini memisahkan desa dan kota secara tajam. Makanan mengalir satu arah dari desa ke kota, tetapi zat haranya tidak pernah kembali ke tanah. Akibatnya muncul apa yang Marx sebut retakan yang tak terpulihkan dalam metabolisme antara manusia dan bumi. Marx menulis bahwa kemajuan dalam pertanian kapitalis bukan hanya seni merampok pekerja, melainkan juga seni merampok tanah. Setiap kemajuan jangka pendek dibayar dengan kerusakan sumber kesuburan jangka panjang.
Perhatikan dua hal yang dirampok sekaligus, yaitu pekerja dan tanah. Inilah letak kekuatan analisis Marx. Ia menyatukan keadilan sosial dan keadilan ekologis dalam satu tarikan napas. Kerusakan alam dan penindasan manusia berasal dari akar yang sama, yaitu logika sistem yang hanya mengejar keuntungan.
Retakan ini juga bersifat global. Marx menunjuk fakta bahwa tanah Inggris yang lelah harus dipupuk dengan kotoran burung dari Peru di seberang lautan. Pertanian tidak lagi mampu menopang dirinya sendiri. Ia menjadi bergantung pada pasokan dari tempat jauh. Gambaran ini terasa sangat akrab dengan dunia kita sekarang.
Banyak orang mengira keberlanjutan adalah ide baru dari akhir abad kedua puluh. Foster menunjukkan benih gagasan itu sudah ada pada Marx. Marx menyerap pemikiran para penulis zamannya yang berkata manusia hanyalah peminjam dari bumi.
Logikanya jelas. Kalau manusia mengambil dari tanah tanpa membayar kembali, ia menumpuk utang. Tanah pada akhirnya akan menagih. Salah satu kalimat yang dikutip Foster berbunyi bahwa manusia hanya penyewa tanah, dan ia berbuat salah jika menurunkan nilai tanah itu bagi penyewa berikutnya yang akan datang.
Marx bahkan menulis gagasan yang sangat maju untuk zamannya. Menurutnya, tidak ada satu pun masyarakat yang benar-benar memiliki bumi. Masyarakat hanya menjaganya sementara. Mereka wajib mewariskan bumi dalam keadaan baik kepada generasi sesudahnya. Ini hampir persis dengan definisi pembangunan berkelanjutan yang kita pakai hari ini.
Kalau ekologi Marx begitu kuat, mengapa dunia lama tidak mengetahuinya? Foster menjawab pertanyaan ini di epilog bukunya. Jawabannya menyedihkan.
Setelah Marx meninggal, gagasan ekologisnya perlahan hilang. Di Uni Soviet, materialisme berubah menjadi versi yang lebih kaku dan mekanis. Para ahli ekologi Rusia yang cemerlang pada 1920-an justru ditumpas pada era Stalin. Salah satu tokohnya, Nikolai Bukharin, menulis karya mendalam tentang hubungan masyarakat dan alam, tetapi naskahnya disembunyikan di arsip paling rahasia dan baru ditemukan puluhan tahun kemudian.
Di Barat juga terjadi hal serupa dari arah berbeda. Banyak pemikir Marxis justru menjauh dari sains dan alam. Akibatnya, sisi ekologis Marx ikut terkubur. Foster menyebut ini sebagai sebuah tragedi besar bagi pemikiran ekologi Marxis sesudah Marx.
Kabar baiknya, gagasan itu hidup kembali. Menurut Foster, kebangkitannya datang justru lewat ilmu pengetahuan alam pada 1970-an, saat warisan pandangan materialis tentang alam belum sepenuhnya padam. Buku ini sendiri adalah bagian dari usaha menghidupkan kembali warisan tersebut.
Apa gunanya semua ini untuk pembaca masa kini? Cukup banyak. Pertama, buku ini mengubah cara kita memandang sejarah ide lingkungan. Ekologi bukan lahir dari penolakan terhadap sains, melainkan dari perkembangan sains itu sendiri.
Kedua, gagasan retakan metabolik memberi kita alat untuk membaca krisis zaman sekarang. Tanah yang rusak, rantai pasok pangan yang panjang, kota yang penuh limbah, dan ketergantungan pada pupuk dari jauh adalah masalah yang sudah dipotret Marx lebih dari seratus tahun lalu. Polanya belum banyak berubah, hanya skalanya yang membesar.
Ketiga, buku ini menolak memisahkan isu sosial dan isu lingkungan. Bagi Marx, merusak alam dan menindas manusia berasal dari logika yang sama. Maka memperbaiki keduanya juga harus berjalan bersama. Pelajaran ini terasa tajam di tengah perdebatan iklim hari ini, yang sering memisahkan nasib bumi dari nasib orang miskin.
Marx’s Ecology bukan bacaan ringan. Buku ini padat dengan filsafat dan sejarah ide. Tetapi pesan utamanya bisa diringkas sederhana. Marx melihat manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya. Ia memperingatkan bahwa sistem yang hanya mengejar keuntungan akan merampok tanah dan pekerja sekaligus. Ia mengingatkan kita untuk mewariskan bumi dalam keadaan baik.
Foster mengajak kita membaca ulang seorang pemikir lama dengan mata baru. Hasilnya bukan sekadar Marx yang berbeda, melainkan cara pandang yang berguna untuk menghadapi krisis kita sendiri. Bumi bukan milik kita. Kita hanya penjaganya untuk sementara waktu.
