Oleh; Fitrah Insani

Saya jadi teringat sebuah film yang berjudul Cast Away yang rilis pada tahun 2000, film tersebut hingga saat ini masih membekas diingatan saya, karena dikemas dengan sangat menarik. Film ini bercerita tentang bagaimana seseorang hidup sendiri ditengah pulau terpencil selama bertahun-tahun. Saya kira Cast Away ini adalah film yang sukses menyajikan bagaimana seseorang tetap bisa survive menghadapi kesepian dan keterasingan. Film tersebut dibintangi oleh Tom Hanks, ia berperan sebagai Chuck Noland, dia adalah seorang eksekutif FedEx yang terdampar di sebuah pulau terpencil yang tidak berpenghuni ditengah Samudra Fasifik, setelah pesawat yang ia tumpangi jatuh dan kebetulan ia sendiri yang selamat dari peristiwa itu.

Dalam film tersebut, ada dua hal yang menjadi catatan menarik yaitu pertama, bagaimana Chuck Noland bertahan hidup dengan mencari apa saja yang dapat menjadi makanan dipulau itu, dan kedua, bagaimana Chuck Noland mengatasi kesepian dan terasing karena hidup sendiri di pulau terpencil selama kurang lebih 4 tahun.

Salah satu benda ikonik dari film ini adalah sebuah bola volley yang ia namai Wilson. Bola volley ini berasal dari salah satu paket yang dibawa bersama pesawat. Bola volley inilah yang kemudian menjelaskan bagaimana ia dapat bertahan secara psikologis menghadapi kesendirian dan keterasingan selama bertahun-tahun. Dengan menggunakan goresan dari jari tangannya yang berdarah, ia memberi gambar mulut, hidung dan mata pada permukaan bola volley atau “si Wilson” ini. Benda inilah yang kemudian menemani Chuck berbicara atau berkomunikasi selama ia berada di pulau tersebut.

****

Kira-kira satu bulan lalu saya berkesempatan untuk membaca buku Mengenal Budaya Enggano yang di tulis oleh Ekorusyono. Dalam buku tersebut terdapat bagian yang menceritakan tentang asal usul nenek moyang orang Enggano berdasarkan ingatan kolektif dari Masyarakat setempat dan tokoh-tokoh adatnya. Saya nantinya akan mengaitkan kisah nenek moyang orang Enggano ini dengan film yang diawal secara sekilas saya ceritakan. Setidaknya ada 3 versi cerita yang dikutip oleh Ekorusyono pada buku yang ditulis olehnya. Dari tiga versi itu, salah satu versi yang menurut Ekorusyono paling rasional dari dua lainnya yaitu, versi kisah yang disampaikan oleh Bapak Alfared Kaitora yang saat itu memiliki posisi sebagai Kepala pintu suku yang dalam Bahasa Enggano disebut sebagai Kap kaudar dan dua versi lainnya yang ada dalam buku Ekorusyono salah satunya akan saya taruh disini sebab, versi ketiga dari buku Mengenal Budaya Enggano, tidak diakui oleh tokoh-tokoh adat setempat. Jadi dari 3 versi yang disebut oleh Ekorusyono, 2 versi yang akan saya taruh disini. Meskipun saya akan lebih fokus untuk memberi interpretasi terhadap versi yang disampaikan oleh Bapak Alfared Kaitora. Selanjutnya, satu versi lagi sebagai tambahan yang bersumber dari dokumen adat yang diperlihatkan oleh Paabuki atau dapat dipahami sebagai (Koordinator Kepala-Kepala Suku di Enggano) untuk disalin oleh Pihak Akar Global Inisiatif dalam rangka untuk mendampingi penyusunan dokumen usulan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Enggano. Jadi semuanya ada 3 versi yang dirangkum dalam tulisan ini. Dari tiga 3 tersebut, versi Bapak Alfared Kaitora yang tertera dalam Buku Mengenal Budaya Enggano hampir sama secara prinsipil dengan versi yang tercatat dalam dokumen Salinan dari Akar Global inisiatif.

Berikut adalah versi kisah yang di sampaikan oleh Bapak Alfared Kaitora, yang dikutip dari buku Mengenal Budaya Enggano;

“Menurut cerita turun temurun dari Nenek Moyang kami, dahulu kala ada dua rombongan manusia menaiki rakit mengarungi Samudra raya. Jumlah mereka diperkirakan dua belasan orang dengan asumsi satu rakit mampu ditumpangi oleh enam orang beserta segala perbekalannya. Dua rombongan inilah yang menemukan pulau Enggano pertama kali. Mereka menyebutnya Ekkepu Yanipah artinya tempat persinggahan dari lelahnya berlayar berbulan-bulan. Satu rombongan mendarat dengan selamat di teluk kinen dan satu rombongan lagi mendarat di Buwa-Buwa, dua-duanya terletak di sebalik pulau (Pantai bagian barat) jarak antara mereka cukup jauh kurang lebih tiga puluhan kilometer dipisahkan hutan belantara. Penghubung satu-satunya yang tidak beresiko hanya Pantai berpasir bisa disusuri dengan jalan kaki. Rombongan pertama menetap di teluk kinen begitu juga rombongan kedua menetap di Buwa-Buwa.

Penghidupan mereka pada waktu itu sangat sulit sekali. Mereka terpaksa memakan apa yang tersedia di hutan Enggano seperti keladi birah, talas dan ubi hutan dan pakaiannya terbuat dari pisang kering sekedar penutup daerah terlarang. Kondisi cuaca tidak menguntungkan hujan panas silih berganti tanpa ada tanda-tanda terlebih dahulu. Bila malam menjelang udara dingin menyengat menusuk tulang disertai serbuan nyamuk-nyamuk kelaparan menambah kegetiran hidup di pulau terasing ini. Akibatnya banyak diantara mereka yang terkena wabah malaria. Obat-obatan alam tidak mampu melawan keganasan penyakit ini sehingga ajal pun menjemput mereka satu persatu.

Ganasnya serangan malaria menyebabkan rombongan pertama tinggal satu orang laki-laki yang masih hidup bukan suatu kebetulan kalau rombongan kedua yang hidup satu orang perempuan. Dalam waktu yang cukup lama mereka hidup mengembara seorang diri, sepi mencekam menakutkan sambil berharap teman-teman mereka yang sudah mati hidup kembali. Sebagai seorang laki-laki, ia memutuskan untuk menelusuri pulau melalui pantai dan ia menemukan perempuan seorang diri sedang mencari ikan dan memecahkan kerang diantara tulang belulang teman-temannya. Perempuan itu mengira laki-laki yang muncul di belakangnya berasal dari kerang yang dia pecahkan. Maka dengan rasa gembira ia mengajak laki-laki itu memecahkan kerang sebanyak-banyaknya. Semua kerang habis dipecahkan tapi tak ada manusia lain muncul kecuali mereka berdua. Akibat kegagalan itu yang laki-laki diberi nama Kamanppa singkatan dari Kah Kamanippa (ayo pergi memecahkan) dan si Perempuan diberi nama Nanipah singkatan dari Nai Nippaha (ibu yang memecahkan). Mereka berdua akhirnya sepakat mengikat tali perkawinan dan menetap di teluk Kinen tempat si laki-laki pertama bermukim. Dua orang inilah yang diyakini sebagai cikal bakal nenek moyang orang Enggano.”

Selanjutnya sebagai versi kedua Ekorusyono mengutip kisah yang diceritakan oleh Martinus Nijhoff, narasinya sebagai berikut;

“Pada zaman dahulu kala di pulau Enggano terjadi sebuah banjir besar semua pulau tergenang air kecuali puncak bukit Ekohe Nanu’uwa. Seluruh penduduk tidak ada yang selamat kecuali satu orang yang mampu menyelamatkan diri keatas bukit tersebut. Orang itu bertahan sendirian puncak bukit sampai air surut. Setelah menunggu beberapa hari air pun surut dan ia sangat merasa lapar karena beberapa hari tidak makan apa-apa. Dengan langkah gontai karena menahan lapar ia melangkahkan kaki berjalan menuju pantai mencari makanan. Di pantai ia menemukan beberapa binatang kerang segera diraihnya karena rasa ingin segera makan, dipecahkannya sekuat tenaga dengan sisa tenaga yang ada. Betapa kagetnya dia ternyata yang muncul dari kerang itu bukan isi binatang kerang melainkan manusia. Saking gembiranya mendapat teman hidup, ia pecahkan banyak-banyak kerang yang dia temui. Hasilnya sama, selalu muncul manusia baru lalu ia kumpulkan semua manusia-manusia itu kemudian dibagi-bagi sesuai dengan bentuk rupa dan tubuh mereka. Dari pembagian itulah terbentuk suku-suku sebagai cikal bakal nenek moyang orang Enggano.”

Sebagai tambahan, saya juga akan mengutip, sebuah dokumen dari Masyarakat adat Enggano, yang disalin oleh Pihak NGO, Akar Global Inisiatif, pada dokumen ini yang diceritakan narasinya hampir sama dengan apa yang diceritakan oleh, Bapak Alfared Khaitora, perbedaannya yang mencolok hanya pada apa yang dipecahkan (kerang atau tulang) yang nantinya akan saya beri interpretasi. Pada versi Bapak Alfared Khaitora, yang dipecahkan adalah hewan sejenis kerang, sedangkan dalam versi ketiga dokumen tersebut, yang dipecahkan adalah sisa tulang belulang, atau kerangka dari rekannya yang sudah meninggal. Narasinya akan saya kutip sebagai berikut;

“Tentang keberadaan asal mula adanya manusia pertama di Pulau Enggano adalah dari antara 2 (dua), rombongan manusia pada waktu berturutan berlayar kemudian hanyut dan terdampar mendarat dan tinggal menetap di Pulau Enggano. Karena pelayaran mereka secara kuno, jelas memakan waktu yang lama, maka timbullah kesukaran dan kerugian dalam kehidupan dan penghidupan mereka sampai saatnya mereka terdampar di Pulau Enggano.

Oleh kesukaran dan kekurangan yang dialami mereka terseranglah mereka oleh wabah yang mengakibatkan kematian sebagian besar dari jumlah penduduknya. Dan yang selamat hidup dari rombongan yang pertama adalah seorang perempuan dan dari rombongan kedua adalah seorang pria (laki-laki).

Sedangkan perempuan yang selamat dari antara kawanan rombongannya yang pertama itu pada mulanya ia hidup sendiri mengembara di Pulau Enggano tanpa manusia yang lain. Demikian pula pria dari antara kawanan rombongannya yang kedua ia hidup dengan pengalaman yang sama dengan perempuan yang terdahulu di Pulau Enggano.

Dan sepanjang perjalanan hidup mereka di Pulau Enggano yang terpencil jauh dengan kesepian yang sangat menakutkan, mereka selalu menghayati kalau boleh kawan-kawannya yang telah meninggal (mati) itu dapat hidup kembali atau dapat menjelmakan manusia lain untuk kawanan hidupnya.

Pada suatu saat perempuan itu tiba kembali di tempat ia mendarat pada mulanya di tempat itu ia melihat tulang kawan-kawannya yang telah mati di situ telah ditarik oleh hamparan ombak turun ke dasar laut pesisir pantai itu, melihat ada Kumpulan tulang-belulang kawan-kawannya yang telah mati di situ dahulunya, maka suasana pikirannya benar-benar kembali diliputi rasa duka cita dan menyesal, dalam jiwanya menghayati kalau boleh pada waktu itu juga kawan-kawannya yang mati itu dapat hidup kembali menjadi manusia yang seutuhnya untuk menemani dia hidup di tengah-tengah pulau yang terpencil penuh dengan kesepian yang menakutkan tanpa manusia lainnya.

Dan ditengah ia termenung menghayati dan melihat pada kumpulan tulang-belulang di dasar laut di tepi pantai itu, tiba-tiba datang dan dilihatnya seekor ikan yang kecil mungkin menyelinap memasuki kumpulan tulang-tulang itu. Timbullah rasa inginnya untuk melihat dan memperoleh ikan kecil tadi lalu dicarinya pada kumpulan tulang-tulang itu, namun tidak juga dijumpainya, maka timbullan pada sangkanya bahwa ikan kecil itu memasuki lubang tulang-tulang itu lalu dilakukannya mulai memukul, memecahkan tulang-tulang itu guna melihat dan memperoleh ikan kecil mungkin tadi.

Namun bagaimana usahanya itu tidak juga berhasil diperolehnya ikan dimaksud dan sepanjang usahanya dengan perbuatannya tadi sepanjang waktu itu pula ia tetap dalam rasa duka cita dan menghayati kalau boleh tulang-tulang kawannya yang telah mati itu dapat tumbuh dan hidup kembali untuk kawannya.

Tengah ia melakukan usahanya di atas tulang-tulang untuk memperoleh ikan yang dimaksudnya maka telah tiba pula di tempat itu seorang pria yang sama pengalamannya dengan perempuan itu di Pulau Enggano, ia berdiri diam-diam di belakang perempuan itu memperhatikan segala kegiatan usahanya. Dan setelah rasa, puas ia mencari ikan kecil mungil itu lalu ia berdiri hendak pergi dari tempat itu, maka berpalinglah perempuan itu ke belakang, tiba-tiba dilihatnya seorang laki-laki tegap dengan gagahnya tengah berdiri memandang dia, diduga pasti oleh perempuan itu bahwa laki-laki yang dihadapannya itu adalah terjadi dari pecahan tulang yang melanting kepingannya pada waktu itu memecahkan tulang-tulang seperti yang dihayati saat itu.

Maka dengan rasa gembiranya yang tak dapat dinilai/diuraikan, segera, pula perempuan itu mendapati laki-laki itu, demikian juga laki-laki itu dengan rasa terharu dan gembiranya yang tak dapat dinilai/diuraikan ia pun dengan spontan menyambut perempuan itu, karena dugaan perempuan itu memastikan bahwa laki-laki itu berasal dari pecahan tulang-tulang yang dipecahnya, maka oleh laki-laki itu mengajak untuk mengulangi pecahan tulang-tulang itu untuk melihat kepastian yang nyata. Setelah keduanya memecahkan tulang-tulang itu sampai habis ternyata tidak ada lagi manusia yang lain terwujud dari perbuatan mereka.

Karena akibat kegagalan itu maka laki-laki itu diberikannya nama: KAMANPPA yakni singkatan dari kata KAH KAMINPPA (ayo pergi memecahkan) dan sang perempuan itu diberi nama NANIPAH singkatan dari kata NAI NIPAHHA (ibu yang memecahkan). Dengan pertemuan keduanya ini merekapun mengikat suatu perkawinan yang menjadi asal mula penduduk asli Pulau Enggano, karena keduanya berlainan asal bangsa maka terjadilah perkawinan Bahasa dan adat kebudayaan sehingga terciptalah Bahasa dan adat kebudayaan asli Enggano.”

Seperti diinpirasi oleh film Cast Away, jika kita mengandaikan bahwa awal mula Nenek Moyang Orang Enggano adalah mereka berasal dari luar, kemudian terdampar di pulau tak berpenghuni (Ekkepu Yanipah) itu, maka setidaknya ada dua pertanyaan utama. Yang pertama adalah bagaimana mereka yang tinggal bisa bertahan hidup dengan kebutuhan akan bahan makanan, dan apa yang tersedia disekitar pulau? Selanjutnya setelah rekan-rekan mereka satu-persatu meningggal karena penyakit malaria atau karena kondisi kesehatan mereka terus menurun yang kemudian menyebabkan satu-persatu meninggal dunia. Maka pertanyaan kedua adalah bagaimana orang yang terakhir tinggal sendirian menghadapi derita kesepian atau keterasingan? Dua hal ini setidaknya telah dijawab oleh cerita versi pertama, bagaimana mereka harus memenuhi kebutuhan makan dan bahkan dalam kisah itu disebut juga soal pakaian, kita mengandaikan bahwa pakaian yang mereka bawa setelah sekian lama tidak dapat digunakan lagi, dan secara tersirat bahwa, periode survival ini berjalan dalam waktu yang lama sehingga mereka harus menggunakan pakaian dari pisang kering karena di asumsikan bahwa pakaian yang mereka pakai sebelum terdampar sudah tidak dapat digunakan lagi, disitu disebutkan; “,,Mereka terpaksa memakan apa yang tersedia di hutan Enggano seperti keladi birah, talas dan ubi hutan dan pakaiannya terbuat dari pisang kering sekedar penutup daerah terlarang.,,”.

Selanjutnya adalah persoalan bagaimana situasi psikologis orang yang terakhir hidup, setelah rekan-rekannya satu-persatu meninggal. Tentu saja situasi itu menorehkan luka batin dan kesedihan yang mendalam. Kalau kita mengingat film Cast Away, salah satu hal yang berkesan adalah ekspresi psikologis dari kesendirian atau keterasingan. Ekspresi psikologis keterasingan ini dalam kisah yang disampaikan Pak Alfared Kaitora, pada ceritanya ia menyebutkan; “dalam waktu yang cukup lama mereka hidup mengembara seorang diri, sepi mencekam menakutkan sambil berharap teman-teman mereka yang sudah mati hidup kembali.” dan selanjutnya, ekspresi psikologis kesendirian dan harapan juga terindikasi dalam cerita saat ia memecahkan kerang, dalam batinnya kemungkinan ia sedang berharap atau mungkin saja sedang berdo’a kepada “Tuhan” agar ada manusia lain yang menemaninya, dan ajaibnya harapannya terkabul justru saat ia sedang berharap sambil memecahkan kerang. Mereka dipertemukan tepat pada waktu ia sedang memanjatkan harapannya. Sehingga peristiwa memecahkan kerang ini, menjadi bagian yang amat penting dari ingatan kolektif Masyarakat Adat Enggano tentang asal usul leluhur mereka.

Workshop Masyarakat Adat Enggano bersama Akar Global Inisiatif.

 

Kisah versi pertama dan versi kedua, meski memiliki perbedaan secara keseluruhan, setidaknya memiliki kesamaan tentang memecahkan kerang. Dalam kisah asal usul nenek moyang orang Enggano, kiranya kerang ini menjadi hewan laut yang ikonik seperti dalam film Cast Away yang kebetulan benda Ikoniknya adalah bola Volley yang ia beri nama Wilson. Hewan kerang ini, seperti yang disampaikan pada versi pertama “Perempuan itu mengira laki-laki yang muncul di belakangnya berasal dari kerang yang dia pecahkan” bahkan dalam versi kedua juga disebutkan; Betapa kagetnya dia ternyata yang muncul dari kerang itu bukan isi binatang kerang melainkan manusia. Saya membayangkan bahwa Perempuan nenek moyang Enggano ini, mengekspresikan kesendirian hidup, keterasingan, dan sekaligus harapan agar ia dapat hidup bersama dengan orang lain saat ia memecahkan kerang.  Bagi saya ini adalah situasi yang sangat wajar, tidak aneh sama sekali, mengingat kebutuhan manusia secara psikologis untuk berkomunikasi dengan sesuatu diluar dirinya, karena itu, cerita tersebut amatlah manusiawi. Sebab, kita mengetahui, bahwa manusia bertahan hidup secara psikologis, harus mampu untuk menyisakan secercah harapan, sedangkan dalam kisah ini, nenek moyang Enggano hampir kehilangan harapannya karena sendirian dalam periode waktu yang lama tanpa manusia lain yang menemani, ditambah lagi beban psikologis karena sebelumnya kehilangan teman hidup satu persatu, tidak mengherankan jika Masyarakat asli Enggano sangat menghargai nyawa atau kehidupan seseorang harus dijaga sebagai nilai utama yang amat penting, berangkat dari “kisah kosmik” leluhur Masyarakat adat Enggano yang memiliki penghayatan amat dalam bagaimana menderitanya hidup sendiri.

Disamping itu, jika kita perhatikan dalam narasinya, ada indikasi bahwa cerita ini diwariskan melalui ingatan Leluhur dari garis Perempuan. Indikasi bahwa Perempuan yang bercerita atau cerita ini lebih dominan berasal dari pengalaman perempuan, karena cerita itu berpusat pada orang, yaitu siapa (Laki-laki atau Perempuan) yang memecahkan kerang dan disitu disebut; Nai Nippaha (ibu yang memecahkan), untuk lebih jelasnya akan kembali saya kutip; Perempuan itu mengira laki-laki yang muncul di belakangnya berasal dari kerang yang dia pecahkan. Maka dengan rasa gembira ia mengajak laki-laki itu memecahkan kerang sebanyak-banyaknya. Semua kerang habis dipecahkan tapi tak ada manusia lain muncul kecuali mereka berdua. Akibat kegagalan itu, yang laki-laki diberi nama Kamanppa singkatan dari Kah Kamanippa (ayo pergi memecahkan) dan si Perempuan diberi nama Nanipah singkatan dari Nai Nippaha (ibu yang memecahkan). Ini cukup penting, sebab hal tersebut dapat kita kaitkan dengan mengapa Masyarakat Enggano lebih cenderung Matrilineal dalam praktik kesukuannya, ini dapat ditelusuri mulai dari warisan ingatan tentang leluhur pertama mereka. Bahkan, jika mengacu pada catatan Elio Modigliani, yang melakukan ekspedisi kira-kira pada tahun 1891, tentang hasil ekpedisinya ke Enggano ia memberi judul pada catatannya yaitu, L’isola delle donne Viaggio ad Enggano kira-kira dapat diterjemahkan sebagai Pulau Perempuan: Perjalanan ke Enggano atau bisa dipahami sebagai “Perjalanan ke Pulau Perempuan di Enggano”. Dia menyoroti bagaimana posisi sentral Perempuan dalam kehidupan sosial di Enggano dan posisi Perempuan dalam praktik adatnya.

Pada narasi versi kedua, muncul sesuatu yang beda dari 2 versi lainnya. Ini menceritakan bahwa dahulu Enggano pernah mengalami banjir besar, atau mungkin pernah mengalami tsunami yang menenggelamkan hampir seluruh pulau Enggano. Ini bisa saja benar-benar terjadi di masa lampau yang tidak diketahui, pada periode waktu kapan itu pernah terjadi. Disamping itu, hal yang memungkinkan bahwa peristiwa itu pernah terjadi, mengingat bahwa nenek moyang masyarakat asli Enggano telah menghuni pulau itu selama lebih dari ribuan tahun. Selain itu, versi kedua ini, lebih bertujuan untuk menjelaskan bagaimana di Enggano kemudian terdapat beberapa suku, meski yang dimaksud adalah 5 suku Asli sebelum hadir suku pendatang (Ka’may). Meskipun, versi kedua ini cenderung mistik, akan tetapi cerita ini memiliki kekuatan untuk lebih mudah diingat oleh banyak orang, sebab suatu mitos yang “Ajaib” atau menakjubkan akan sangat berkesan dan lebih mudah diingat banyak orang.

Selanjutnya adalah persoalan “Kerang atau Tulang”, pada versi pertama dan kedua memiliki kesamaan bahwa yang dimaksud adalah hewan sejenis kerang, dan selanjutnya pada dokumen adat yang di pegang oleh Paabuki yang dimaksud adalah tulang, yaitu tulang-belulang temannya yang telah meninggal sebagaimana yang saya kutip diatas. Tentang perbedaan ini, beberapa asumsi dapat kita ajukan, bahwa soal “tulang atau kerang” ini terkait soal pengharapannya agar teman-temannya yang sudah meninggal dapat hidup kembali atau harapannya agar memiliki teman hidup meskipun bukan temannya yang sudah mati, mengingat ia sudah terlalu lama sendiri di pulau tak berpenghuni. Asumsi pertama bahwa jika yang dimaksud adalah Tulang, ini agaknya terkait soal pengharapan agar teman-temannya yang sudah meninggal hidup kembali. Memecahkan tulang-belulang dari temannya sendiri itu secara sekilas tampaknya memiliki hubungan secara langsung dengan pengharapan agar teman-temannya hidup kembali, ketimbang mengatakan bahwa yang dipecahkan adalah kerang. Akan tetapi agaknya timbul kritik dari tokoh adat setempat, memecahkan sisa tulang teman-temannya sendiri (jika menggunakan cara pikir sekarang) dapat dianggap tidak menghormati “almarhum” yang hingga akhir hayat ikut menemaninya.

Asumsi kedua, bahwa yang dimaksud adalah hewan semacam kerang, tampaknya juga mengalami sedikit keberatan jika di beri pertanyaan; apa hubungannya kerang dengan harapan agar teman-temannya yang sudah meninggal bisa hidup kembali? Kiranya tidak tepat untuk menggunakan nalar pertanyaan seperti ini untuk memberi kritik jika yang dimaksud adalah kerang. Jalan nalar untuk menjustifikasi bahwa yang dimaksud adalah kerang, ini terkait bahwa Perempuan terakhir yang hidup sendiri harus menemukan makanan tanpa bantuan orang lain, sehingga memungkinkan baginya bahwa aktifitas sehari-hari selalu ada aktifitas mencari makanan, dan kerang adalah hewan laut yang tersedia cukup mudah saat itu tanpa membutuhkan alat tangkap seperti menangkap ikan, meskipun, ada jenis-jenis ikan yang dapat ditangkap tanpa bantuan alat, akan tetapi jika bergantung pada menangkap ikan yang bebas bergerak (berenang), tentu saja hal itu beresiko ada hari dimana tangkapannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makannya sendiri, belum lagi jika mengandaikan bahwa Perempuan itu harus memenuhi kebutuhan makanan yang bersumber dari tumbuhan sebagai pengganti karbohidrat misalnya disebutkan seperti keladi birah, talas dan ubi hutan karena tanpa bantuan orang lain sehingga tidak ada pembagian tugas, ia harus memenuhinya sendiri. Karena itu, argumentasi bahwa yang dimaksud adalah kerang, karena hewan tersebut lebih mudah didapat ketimbang ikan apalagi jika kita mengingat bahwa di Enggano terdapat jenis kerang raksasa sehingga lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan makanan yang bersumber dari hewani mengingat hidup sendiri menjadikan Perempuan itu hidup dalam mode survival.

Argumentasi selanjutnya yang menguatkan bahwa yang dimaksud adalah kerang yaitu terkait adat yang telah diwarisi Masyarakat Enggano. Kita mengandaikan bahwa, jika yang dimaksud dalam peristiwa asal mula leluhur adalah memecahkan kerang, sangat wajar jika benda sejenis kerang ini menjadi “benda ikonik” yang mengingatkan mereka pada peristiwa masa lalu yang sangat jauh. Memungkinkan jika jejaknya masih tertinggal pada praktik tradisi adat yang ada pada Masyarakat adat Enggano hingga saat ini, sebagai simbol untuk mengingat peristiwa Leluhur pertama mereka. Sedangkan kita ketahui jika kulit kerang dalam tradisi adat Enggano ini digunakan seperti alat musik atau lebih tepatnya digunakan sebagai aba-aba dalam tarian. Masyarakat adat Enggano menyebut benda ini sebagai “Kemiu” yang terbuat dari kerang raksasa. Selain memberi aba-aba dalam tarian, kemiu juga fungsikan sebagai pemberi tanda bahaya dan pemberi tanda untuk mengumpulkan orang-orang. Tampaknya hal ini juga dapat membantu menjelaskan mengapa alat pemberi aba-aba dalam tarian atau pemberi tanda situasi berbahaya tidak dikembangkan oleh Masyarakat Adat Enggano di masa lalu untuk digunakan dalam acara adat dengan menggunakan bahan seperti kayu atau tulang hewan laut lainnya selain kerang, sedangkan Enggano sendiri tidak hanya memiliki sumber daya laut tetapi juga sumber daya hutan yang melimpah dan beragam jenis hewan darat. Karena itu, hal tersebut menguatkan jika yang dimaksud adalah Kerang.

Selanjutnya ada sedikit perbedaan tentang 2 rombongan yang berlayar hingga terdampar di pulau Enggano atau saat itu disebut Ekkepu Yanipah, pada versi pertama atau versi Kisah Pak Alfared, bahwa 2 rombongan ini berlayar pada waktu bersamaan yang terkesan jika mereka (2 rombongan ini) berasal dari tempat yang sama, sedangkan pada kisah yang disampaikan pada versi ketiga, dua rombongan ini berbeda kelompok sama sekali, masing-masing berlayar dan akhirnya terdampar pada waktu yang tidak sama atau berurutan. Menurut saya, cukup masuk akal jika 2 rombongan ini berlayar dan terdampar di waktu yang berbeda atau berurutan, karena jika di asumsikan dalam waktu bersamaan, terkesan akan sangat kebetulan sedangkan mereka berasal dari tempat yang berbeda. Disamping itu, pada versi ketiga memiliki penegasan bahwa 2 rombongan ini berasal dari tempat dan asal bangsa yang berbeda.  Dalam versi keempat, hal ini disebutkan; Dengan pertemuan keduanya ini merekapun mengikat suatu perkawinan yang menjadi asal mula penduduk asli Pulau Enggano, karena keduanya berlainan asal bangsa maka terjadilah perkawinan Bahasa dan adat kebudayaan sehingga terciptalah Bahasa dan adat kebudayaan asli Enggano. Mengikuti nalar cerita versi keempat tersebut, peristiwa ini memungkinkan adanya perkawinan bahasa, sehingga anak keturunan dari mereka berdua yang berlainan bahasa, melahirkan bahasa baru yang berbeda dari dunia luar.

Selain itu, kesedihan yang mendalam dialami, oleh Nanipah yaitu sosok Perempuan yang menjadi nenek moyang Enggano setelah satu-persatu temannya meninggal dunia, kemudian tinggallah ia sendiri dalam periode waktu yang lama dalam sunyi, sepi, dan keterasingan yang mencekam. Ini mengingatkan tentang Yapuruhie, yaitu praktik adat yang amat terkenal di Enggano. Yapuruhie adalah masa (rentang waktu) pantang, dimana dalam kurun waktu itu seluruh warga Enggano tidak boleh mengadakan pesta, atau bergembira ria seperti membunyikan musik dan lainnya. Periode pantangan ini dilakukan dalam rangka berbela sungkawa atas meninggalnya seseorang warga Enggano. Barangkali, masa berpantang ini, bukan saja mengajarkan etika empati komunal, akan tetapi sekaligus menjadi simbol pengingat bagaimana nenek moyang mereka pernah mengalami masa kesunyian, dan kesepian setelah meninggalnya satu-persatu teman yang saat itu selalu menemaninya. Maka, persitiwa asal usul ini amat sejalan secara mekanis dengan aturan adat tentang masa berpantang yaitu Yapuruhie.

Alamat

Jl. DP Negara 7, No. 123 Rt 21/Rw 04, Kel. Pagar Dewa, Kec. Selebar, Kota Bengkulu, Kode Pos. 38216

Language

 - 
Arabic
 - 
ar
Bengali
 - 
bn
German
 - 
de
English
 - 
en
French
 - 
fr
Hindi
 - 
hi
Indonesian
 - 
id
Portuguese
 - 
pt
Russian
 - 
ru
Spanish
 - 
es

Privacy Preference Center