Erwin Basrin

 

Bayangkan sebuah pagi di musim semi tanpa satu pun kicau burung. Tidak ada robin, tidak ada gereja, tidak ada suara apa pun dari pepohonan. Hanya hening. Gambaran itulah yang dipakai Rachel Carson untuk membuka bukunya. Judulnya pun mengandung peringatan: Musim Semi yang Sunyi.

Carson menulis buku ini pada tahun 1962. Lebih dari enam dekade berlalu, tetapi pesannya tetap terasa. Buku ini bukan sekadar tentang burung atau serangga. Buku ini tentang cara manusia memperlakukan dunia tempatnya hidup. Carson ingin kita berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sedang kita lakukan pada bumi?

Tulisan saya kali ini merangkum isi buku itu dengan bahasa sehari-hari. Tujuannya membuat gagasan Carson mudah dipahami siapa saja, tanpa kehilangan kedalamannya.

Rachel Carson adalah seorang ahli biologi laut. Ia bekerja bertahun-tahun di lembaga perikanan dan satwa liar Amerika Serikat. Ia juga penulis terkenal lewat buku The Sea Around Us. Karier dan namanya sudah mapan. Ia bisa saja menulis tema yang aman dan menyenangkan.

Namun ada satu hal yang mengganggu hatinya. Sejak masa setelah Perang Dunia Kedua, penyemprotan racun serangga seperti DDT (Diklorodifeniltrichloroetana) adalah insektisida sintetis kuat yang awalnya digunakan secara luas untuk membasmi serangga pembawa penyakit seperti malaria dan hama pertanian, menyebar luas. Carson dan rekan-rekannya melihat dampaknya pada satwa liar. Ia mencoba menulis artikel tentang bahaya ini. Majalah-majalah menolaknya. Mereka takut kehilangan pemasang iklan dari industri kimia.

Carson akhirnya memilih menulis buku. Buku tidak bergantung pada iklan, jadi lebih bebas. Ia mengerjakannya selama lebih dari empat tahun. Pada saat yang sama, ia sedang berjuang melawan penyakit berat. Ia tahu industri kimia akan menyerangnya. Ia tetap maju. Kepada seorang teman ia menulis bahwa ia tidak akan tenang jika memilih diam.

Carson membuka bukunya bukan dengan data, melainkan dengan cerita. Ia menyebutnya dongeng untuk hari esok. Cerita ini singkat tapi menempel di ingatan.

Dahulu ada sebuah kota kecil di jantung Amerika. Semua makhluk hidup rukun dengan lingkungannya. Ladang gandum menghijau. Pohon apel berbunga. Burung-burung memenuhi udara dengan suara. Sungai mengalir jernih dan penuh ikan. Orang datang dari jauh hanya untuk melihat burung dan memancing.

Lalu sesuatu yang aneh menimpa daerah itu. Ayam dan ternak sakit dan mati. Orang dewasa dan anak-anak jatuh sakit. Burung-burung lenyap. Sarang lebah sepi, sehingga bunga apel tak terserbuki dan tak ada buah. Sungai menjadi mati. Yang tersisa hanya kesunyian. Itulah musim semi tanpa suara.

Di sela atap dan talang, masih tampak sisa bubuk putih halus. Beberapa minggu sebelumnya, bubuk itu turun seperti salju ke atap, ladang, dan sungai. Carson menutup dongeng ini dengan satu kalimat yang menusuk. Bukan sihir dan bukan musuh yang membungkam kehidupan di kota itu. Penduduknya sendiri yang melakukannya.

 

Carson lalu mengaku bahwa kota itu tidak benar-benar ada. Tetapi setiap musibah dalam cerita itu sudah pernah terjadi di suatu tempat. Banyak komunitas nyata telah mengalami sebagiannya. Dongeng itu adalah peringatan, bukan ramalan kosong.

Setelah dongeng, Carson masuk ke inti argumennya. Sepanjang sejarah, lingkungan membentuk kehidupan. Hewan dan tumbuhan menyesuaikan diri dengan dunia di sekitarnya. Proses itu berjalan sangat lambat, selama jutaan tahun.

Baru pada abad ini, kata Carson, satu spesies memperoleh kekuatan besar untuk mengubah alam. Spesies itu adalah manusia. Yang paling mengkhawatirkan dari kekuatan ini adalah pencemaran. Manusia meracuni udara, tanah, sungai, dan laut dengan bahan berbahaya.

Carson menekankan satu hal yang sering dilupakan: waktu. Alam butuh waktu sangat panjang untuk mencapai keseimbangan. Tetapi racun buatan manusia menyebar dalam sekejap. Alam tidak sempat menyesuaikan diri. Lebih buruk lagi, banyak kerusakan ini tidak bisa diperbaiki. Racun masuk ke tanah, lalu ke tubuh makhluk hidup, dan tinggal di sana.

“Manusia telah kehilangan kemampuan untuk meramalkan dan mencegah. Ia akan berakhir dengan menghancurkan bumi.”  — Albert Schweitzer, yang dikutip Carson sebagai persembahan bukunya

Bab tentang bahan kimia diberi judul yang dingin: ramuan kematian. Carson membuka bab ini dengan kalimat yang menggetarkan. Untuk pertama kali dalam sejarah, setiap manusia kini bersentuhan dengan bahan kimia berbahaya. Sentuhan itu terjadi sejak dalam kandungan sampai mati.

Bintang utama dalam cerita ini adalah DDT dan racun sejenisnya. DDT pernah dipuji sebagai keajaiban. Ia membunuh serangga dengan mudah dan murah. Petani menyemprotkannya ke ladang. Pemerintah menyebarkannya dari pesawat ke hutan dan kota.

Masalahnya, racun ini tidak hilang begitu saja. DDT bertahan lama di tanah dan air. Ia juga larut dalam lemak. Begitu masuk ke tubuh, ia mengendap di jaringan lemak dan menumpuk. Racun yang dirancang untuk membunuh serangga ternyata ikut menyentuh hampir semua makhluk hidup, termasuk kita.

Salah satu wawasan paling penting dari buku ini adalah soal rantai makanan. Carson menjelaskannya dengan jernih. Racun tidak berhenti pada korban pertama. Ia berpindah dari satu makhluk ke makhluk lain.

Prosesnya bekerja seperti ini. Tumbuhan kecil menyerap sedikit racun. Hewan kecil memakan banyak tumbuhan itu, lalu menyimpan racun lebih banyak. Hewan besar memakan banyak hewan kecil, dan racunnya berlipat lagi. Setiap naik satu tingkat, kadar racun melonjak. Para ilmuwan menyebutnya pembesaran biologis.

Carson memberi contoh nyata di Clear Lake, California. Danau itu disemprot racun untuk membasmi serangga. Kadar racun di air sangat kecil. Tetapi racun itu naik lewat rantai makanan. Ikan menyimpannya dalam kadar tinggi. Burung pemakan ikan lalu mati. Masalah kecil berubah menjadi bencana besar yang tak terlihat.

Inilah sebabnya burung robin mati setelah pohon elm disemprot. Robin tidak disemprot langsung. Racun mencapai mereka selangkah demi selangkah lewat cacing tanah yang mereka makan. Dari sinilah datang gambaran musim semi yang sunyi.

Carson menunjukkan ironi besar dari perang melawan serangga. Racun ternyata sering memperburuk masalah, bukan menyelesaikannya.

Alasannya ada dua. Pertama, serangga berkembang biak dengan sangat cepat. Sebagian individu kebetulan kebal terhadap racun. Mereka selamat dan mewariskan kekebalan itu. Setelah beberapa generasi, racun yang sama tidak lagi mempan. Manusia lalu memakai racun yang lebih kuat, dan siklusnya berulang.

Kedua, racun tidak pilih-pilih korban. Ia juga membunuh musuh alami hama. Laba-laba, kumbang, dan burung yang biasanya memangsa hama ikut musnah. Tanpa pemangsa alami, populasi hama justru bisa meledak lebih besar dari sebelumnya. Carson menyebut keadaan ini sebagai jalan yang tak berujung. Semakin banyak racun, semakin besar masalahnya.

Carson tidak berhenti pada burung dan ikan. Ia juga bicara tentang tubuh manusia. Salah satu kekhawatiran terbesarnya adalah kanker.

Ia menelusuri sejarahnya. Pada tahun 1775, seorang dokter di London menyadari bahwa jelaga membuat para pembersih cerobong asap terkena kanker. Itu salah satu bukti awal bahwa zat dari lingkungan bisa memicu kanker. Sejak masuk era industri, makin banyak bahan kimia baru yang bersifat memicu kanker.

Carson menunjukkan data yang mengkhawatirkan pada zamannya. Angka kematian akibat kanker naik tajam dibanding awal abad. Kanker bahkan mulai menyerang anak-anak, sesuatu yang dahulu sangat langka. Ia menduga sebagian bahan kimia yang kita pakai untuk mengendalikan alam ikut berperan.

Ia juga mengkritik cara pengawasan bekerja. Sebuah racun bisa beredar bertahun-tahun sebelum dinyatakan berbahaya. Selama itu, kata Carson, publik diperlakukan seperti kelinci percobaan. Apa yang hari ini disebut aman bisa terbukti berbahaya esok hari.

Carson sadar buku ini akan memancing kemarahan. Industri kimia memang menyerangnya keras. Mereka menghabiskan banyak uang untuk menjatuhkan kredibilitasnya. Ia digambarkan sebagai perempuan yang tidak paham ilmu dan terlalu emosional.

Serangan itu justru menjadi bumerang. Kontroversi membuat buku ini makin terkenal. Yang penting, Carson tidak meminta kita melarang semua bahan kimia. Ia meminta sesuatu yang lebih mendasar. Ia menuntut hak publik untuk tahu. Kita berhak mengetahui racun apa yang disemprotkan di sekitar kita, dan kita berhak ikut memutuskan.

Bagi Carson, akar masalahnya adalah sikap. Masyarakat industri sering merasa berhak menundukkan alam tanpa berpikir panjang. Ia menyebut frasa pengendalian alam sebagai ungkapan yang penuh kesombongan. Alam bukan musuh yang harus ditaklukkan. Alam adalah jaring kehidupan tempat kita menjadi salah satu bagian.

Carson menutup bukunya dengan harapan, bukan keputusasaan. Bab terakhirnya berjudul jalan yang lain. Ia memakai gambaran dua jalan yang bercabang.

Jalan pertama tampak mudah dan cepat. Itulah jalan yang selama ini kita tempuh, yaitu menebar racun tanpa henti. Tetapi ujung jalan itu adalah bencana. Jalan kedua lebih jarang dilalui. Jalan itu menawarkan satu-satunya kesempatan kita untuk menjaga bumi tetap hidup. Carson menegaskan bahwa pilihan ada di tangan kita.

Apa isi jalan kedua itu? Carson menyebutnya pengendalian secara biologis. Intinya, kita memahami makhluk hidup yang ingin kita kendalikan, lalu memakai cara alami untuk mengelolanya. Bukan membombardir segalanya dengan racun.

Ia memberi contoh yang berhasil gemilang. Lalat ulir adalah hama yang merugikan peternakan. Seorang ilmuwan bernama Edward Knipling punya ide cerdik. Ia membiakkan jutaan lalat jantan, lalu memandulkannya dengan radiasi. Lalat mandul itu dilepas ke alam. Mereka kawin dengan lalat betina liar, tetapi tidak menghasilkan keturunan. Lama-lama populasi hama runtuh dengan sendirinya.

Cara ini diuji di Pulau Curacao dan berhasil dalam hitungan minggu. Kemudian diterapkan di Florida dengan hasil yang sama. Hama itu lenyap tanpa meracuni seluruh lingkungan. Bagi Carson, ini bukti bahwa ada jalan yang lebih cerdas dan lebih bersahabat dengan alam.

Pengaruh Silent Spring jauh melampaui isinya. Buku ini membuat kata ekologi, yang dahulu asing, menjadi perhatian banyak orang. Ia memicu gelombang kesadaran lingkungan di seluruh dunia.

Dampaknya nyata. Presiden Amerika Serikat saat itu membentuk panel ilmiah khusus untuk meneliti pestisida. Laporan panel itu membenarkan peringatan Carson. Buku ini juga ikut mendorong lahirnya banyak aturan perlindungan lingkungan. Penggunaan DDT akhirnya dibatasi keras.

Sayangnya, Carson tidak sempat menikmati buah dari karyanya terlalu lama. Ia meninggal tak lama setelah bukunya terbit, karena penyakit yang ia lawan selama menulis. Namun pesannya tetap hidup.

Inti pesan Carson sederhana, tetapi dalam. Manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa yang terpisah darinya. Apa pun yang kita lepas ke udara, tanah, dan air pada akhirnya kembali kepada kita. Racun tidak mengenal batas pagar rumah.

Carson tidak menyuruh kita membenci ilmu atau teknologi. Ia menyuruh kita memakainya dengan rendah hati dan hati-hati. Ia meminta kita berpikir tentang akibat jangka panjang, bukan hanya keuntungan sesaat.

Hari ini, masalah kita memang berganti wajah. Bukan lagi sekadar DDT, melainkan plastik, polusi udara, dan perubahan iklim. Tetapi cara berpikir yang ditawarkan Carson tetap relevan. Lihat keseluruhan jaring kehidupan. Hargai keseimbangan alam. Tuntut hak untuk tahu. Dan ingat bahwa pilihan, seperti kata Carson, selalu ada di tangan kita.

Catatan tentang sumber

Esai ini disusun berdasarkan buku Rachel Carson, Silent Spring (terbit pertama kali 1962).

Alamat

Jl. DP Negara 7, No. 123 Rt 21/Rw 04, Kel. Pagar Dewa, Kec. Selebar, Kota Bengkulu, Kode Pos. 38216

Language

 - 
Arabic
 - 
ar
Bengali
 - 
bn
German
 - 
de
English
 - 
en
French
 - 
fr
Hindi
 - 
hi
Indonesian
 - 
id
Portuguese
 - 
pt
Russian
 - 
ru
Spanish
 - 
es

Privacy Preference Center