Oleh: Erwin Basrin SH.

Pagi di Desa Bandung Jaya datang dengan cara yang pelan, seolah tidak ingin mengejutkan siapa pun. Kabut turun tipis dari perbukitan Kepahiang, menyentuh atap-atap rumah, menyapu halaman yang telah disiapkan sejak subuh. Di desa ini, pertemuan tidak pernah dimulai dengan pengeras suara, tetapi dengan kerja mengangkat kursi, menata tikar, menjerang air, menyiapkan dapur. Di sanalah konferensi ini sesungguhnya dimulai bukan di podium, melainkan di tangan-tangan perempuan yang bekerja tanpa aba-aba.

Konferensi Internasional Perempuan Adat ini diselenggarakan oleh Akar Global Inisiatif, dan diikuti oleh setidaknya 160 peserta dari Malaysia, Kanada, Inggris, Denmark, Manila, serta dari berbagai wilayah Indonesia dari Papua, Sulawesi, Kalimantan Barat, Jawa, dan Sumatera. Namun angka-angka itu terasa kecil bila dibandingkan dengan bobot cerita yang dibawa setiap tubuh yang hadir. Mereka datang bukan sebagai delegasi negara, melainkan sebagai pembawa ingatan kolektif tentang tanah, laut, hutan, dan kehidupan yang terus-menerus diganggu.

Desa Bandung Jaya, di Kabupaten Kepahiang, bukan lokasi netral. Ia adalah ruang hidup tempat orang tahu bahwa pertemuan berarti keramahtamahan, dan keramahtamahan berarti kerja. Seorang perempuan tua melintas sambil membawa panci besar, seorang gadis muda mengikat spanduk dengan simpul sederhana. Tidak ada yang tampak penting, padahal semuanya menentukan. Dunia perempuan memang sering bekerja seperti itu. Menentukan tanpa terlihat.

Ketika saya diminta memberikan sambutan sebagai pelaksana konferensi, saya berdiri dengan kesadaran yang tidak ringan. Kata-kata, di hadapan perempuan adat, selalu berisiko. Terlalu teoritis akan terasa asing, terlalu politis bisa terdengar hampa. Maka saya memilih berbicara dari sesuatu yang paling dekat pengalaman yang tidak membutuhkan legitimasi akademik.

Saya ceritakan saya ini di lahirkan dari seorang ibu. Dan ibu saya adalah perempuan yang menyampaikan kepada saya bahwa perempuan dilahirkan untuk merawat dengan ketelatenan yang sering diremehkan. Bahwa perempuan memiliki hati yang peka, dan di dalam hati itu ada pikiran yang tak selalu bisa dipahami oleh laki-laki. Bukan karena lebih rendah atau lebih tinggi, tetapi karena cara merasakan dunia yang berbeda. Perempuan adalah perawat keberlangsungan kehidupan. Mereka tidak hanya merawat manusia, tetapi juga alam, tanah, air, benih, dan waktu.

Kalimat itu tidak disambut tepuk tangan yang riuh. Ia disambut anggukan-anggukan kecil, senyum tipis, dan tatapan yang mengerti. Dalam konferensi perempuan adat, persetujuan tidak selalu berisik.

Di sela-sela acara, Ibu Supriyati, panitia lokal, mendekati saya. Suaranya pelan, hampir seperti berbisik, tetapi isinya tegas. “Kegiatan ini semuanya disiapkan sepenuhnya oleh perempuan,” katanya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan dunia di belakangnya. Ia adalah pernyataan politik tanpa slogan. Bahwa ketika perempuan dipercaya, sebuah pertemuan lintas negara dapat berdiri tanpa hiruk-pikuk kekuasaan.

Di sudut lain, seorang perempuan dari Lembah Napu, Kecamatan Lore Peore, Sulawesi, menghampiri saya. Ia tidak memperkenalkan diri dengan jabatan, hanya dengan masalah. “Lahan untuk penghidupan kami bermasalah dengan Bank Tanah,” katanya. Tidak ada kemarahan dalam suaranya, hanya kelelahan yang panjang. Bank Tanah, sebuah istilah yang terdengar rapi di dokumen negara di tubuhnya berubah menjadi ketidakpastian. Apakah ladang masih bisa ditanami, apakah anak-anak masih bisa pulang.

Dari Pasar Seluma, Pantai Barat Sumatera, Ibu Elda bercerita dengan nada yang lebih keras, seolah ombak laut ikut berbicara melalui dirinya. “Di darat kami telah berhasil mengusir tambang besi,” katanya, “tapi dari laut kami diancam kapal trawl.” Kemenangan di satu ruang tidak berarti apa-apa ketika ruang lain direbut. Perempuan pesisir tahu benar bahwa laut bukan latar belakang romantik, melainkan dapur, sekolah, dan masa depan.

Seorang perempuan dari Papua menyebut sesuatu yang jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari. Keretakan metabolik. Ia tidak menjelaskannya dengan teori, tetapi dengan contoh. Hutan yang tak lagi memberi, sungai yang tak lagi menyembuhkan, tanah yang tak lagi menjawab doa. Istilah itu mungkin lahir dari buku-buku, tetapi di Papua ia hidup sebagai pengalaman tubuh, retaknya hubungan antara manusia dan alam akibat ekstraksi yang tak mengenal batas.

Dari Kalimantan Barat, seorang perempuan Dayak berkata dengan nada undangan sekaligus perlawanan: “Kami undang Akar Global Inisiatif untuk membantu kami melawan perkebunan dan solusi iklim yang membatasi akses kami ke hutan dan tanah tempat kami hidup.” Di sini, kata “solusi iklim” terdengar ironis. Apa yang disebut solusi, bagi mereka, justru pagar baru yang menghalangi napas.

Konferensi ini bergerak seperti sungai kecil yang bertemu banyak anak sungai. Cerita-cerita itu tidak disusun untuk mencapai satu kesimpulan tunggal. Ia dibiarkan mengalir, saling menyentuh, kadang bertabrakan. Dalam setiap sesi, jelas terlihat satu pola. Perempuan adat berbicara tentang politik melalui kehidupan sehari-hari. Tentang dapur yang tak lagi punya ikan, tentang kebun yang kehilangan air, tentang anak-anak yang belajar bahasa ibu di tengah ancaman penghapusan.

Peserta dari Malaysia berbagi pengalaman tentang pengakuan yang datang terlambat dan setengah hati. Dari Kanada, seorang perempuan adat berbicara tentang trauma antargenerasi. Dari Inggris dan Denmark, para peserta datang bukan sebagai penyelamat, tetapi sebagai pendengar sebuah posisi yang langka dalam relasi global. Dari Manila, kisah tentang kota dan adat berkelindan, memperlihatkan bahwa perampasan tidak selalu datang dari hutan. Ia juga tumbuh di beton.

Di antara sesi-sesi itu, dapur tidak pernah berhenti. Perempuan-perempuan lokal terus memasak, menyajikan, membersihkan, lalu kembali duduk mendengarkan. Konferensi ini berjalan di dua ruang sekaligus. Ruang diskusi dan ruang perawatan. Dan keduanya sama pentingnya.

Sebagai penyelenggara, saya melihat sesuatu yang sering luput dari laporan kegiatan. Bahwa logistik adalah politik. Siapa yang memasak, siapa yang membersihkan, siapa yang mengatur waktu semuanya menentukan arah pertemuan. Ketika perempuan mengambil alih kerja-kerja itu, konferensi ini tidak hanya membicarakan commons, ia mempraktikkannya.

Malam hari, Desa Bandung Jaya tidak berubah menjadi gelap. Lampu-lampu kecil menyala, suara percakapan berlanjut di beranda. Tidak ada gala dinner, tidak ada pidato panjang. Yang ada adalah cerita-cerita yang mengendap. Seorang peserta dari Jawa bercerita tentang sawah yang terjepit proyek. Seorang dari Sumatera mengingat kembali hutan yang kini tinggal nama. Dari Sulawesi, Papua, Kalimantan, semua bertemu dalam kesadaran yang sama bahwa dunia sedang retak, dan perempuanlah yang pertama kali mendengar bunyinya.

Konferensi ini tidak menjanjikan solusi instan. Tidak ada deklarasi yang berisik, tidak ada foto bersama yang dipaksakan. Yang ada adalah penguatan bahwa perempuan adat tidak sendiri, bahwa pengalaman lokal mereka adalah bagian dari krisis global, dan bahwa perawatan yang selama ini dianggap kerja sunyi adalah strategi politik paling radikal.

Konferensi ini tidak berlangsung singkat. Ia dijalani selama empat hari, dengan ritme yang sengaja diperlambat, agar setiap cerita punya ruang untuk didengar, dan setiap tubuh punya waktu untuk bernapas. Para peserta tidak ditempatkan di hotel atau penginapan formal, melainkan tinggal di rumah-rumah penduduk Desa Bandung Jaya tidur di kamar sederhana, berbagi dapur, berbagi air, berbagi pagi.

Di sanalah konferensi mengambil bentuknya yang paling jujur.
Percakapan tidak berhenti ketika sesi selesai. Ia berlanjut di meja makan, di teras rumah, di sela menanak nasi dan menyeduh kopi. Perempuan adat dari berbagai penjuru dunia bangun dengan suara ayam yang sama, berjalan di tanah yang sama, dan untuk sementara waktu, hidup dalam ritme yang sama dengan warga desa.

Penginapan di rumah penduduk bukan pilihan teknis, melainkan sikap.
Sebuah cara untuk mengatakan bahwa pengetahuan tidak hanya diproduksi di ruang diskusi, tetapi juga dalam pengalaman hidup bersama. Bahwa solidaritas tidak dibangun lewat dokumen bersama, melainkan lewat keseharian yang dibagi tanpa jarak.

Hingga hari ini, kursi-kursi masih tersusun.
Tikar-tikar belum digulung.
Dapur masih mengepul sejak pagi.
Konferensi masih berlangsung dalam sesi-sesi resmi, dan dalam percakapan yang tak pernah tercatat.

Belum ada kesimpulan yang dipaksakan.
Belum ada deklarasi yang ditutup dengan tepuk tangan.
Yang ada adalah proses yang sedang bergerak. Cerita-cerita yang saling menemukan, pengalaman yang saling menguatkan, dan kesadaran kolektif yang perlahan tumbuh.

Dengan cara ini, Akar Global Inisiatif menempatkan dirinya bukan sebagai penyelenggara acara, melainkan sebagai penjaga ruang. Ruang agar proses bisa berlangsung tanpa tergesa. Ruang agar suara yang selama ini dipinggirkan tidak kembali dikerdilkan. Ruang agar commons tidak hanya dibicarakan, tetapi dipraktikkan.

Di Desa Bandung Jaya, konferensi ini masih berjalan. Ia hidup dalam percakapan yang belum selesai, dalam hubungan yang sedang dibangun, dan dalam kesadaran bahwa mempertahankan kehidupan adalah kerja yang tidak pernah selesai dan tidak pernah seharusnya diperlakukan sebagai acara satu kali.

 

Alamat

Jl. DP Negara 7, No. 123 Rt 21/Rw 04, Kel. Pagar Dewa, Kec. Selebar, Kota Bengkulu, Kode Pos. 38216

Language

 - 
Arabic
 - 
ar
Bengali
 - 
bn
German
 - 
de
English
 - 
en
French
 - 
fr
Hindi
 - 
hi
Indonesian
 - 
id
Portuguese
 - 
pt
Russian
 - 
ru
Spanish
 - 
es

Privacy Preference Center