Salah satu perempuan yang lahan nya akan kami jadikan tempat untuk Field trip dalam acara International Woman Conference nantinya itu bernama Misem. Perempuan berumur setengah abad itu sudah berkebun bahkan sejak usianya masih belia, sudah 34th berlalu katanya. Bersama Suaminya, Pak Sunyoto, mereka mengelola sekitar setengah hektar lahan yang diisi dengan cabe, terong, kentang, dan sayuran lainnya. Lahan sayur itu berhasil membawa anak-anak mereka lulus perguruan tinggi. Bahkan salah satunya saat ini masih sedang kuliah di Universitas negeri provinsi. Dagangan mereka biasanya dijual ke gudang sayur yang ada di daerahnya. Mereka tidak berharap muluk karena yang terpenting adalah kebutuhan rumah tangga selalu tercukupi. Aku sempat bertanya, apakah dia pernah merasakan perasaan bosan setiap kali melakukan aktivitas harian sebagai petani yang menggarap lahan seolah tiada henti. Perempuan itu menatap ku sambil tersenyum menyeka keningnya dengan punggung tangan yang masih menggenggam alat merumput.
“Sebenarnya kadang ada sih sedikit perasaan itu. Tapi ya mau gimana lagi.. gak ada pilihan mbak. Tapi saya tetap bahagia, saya senang berkebun.” Dia tersenyum manis sambil melirik suaminya yang sedang mengurus ternak Kerbau mereka.

Dia masih banyak bercerita dengan wajah sumringah. Menunjuk sebagian lahannya yang baru saja kosong dan memberitahukan bahwa itu semua adalah lahan yang sebagian besar dikelola secara organik. Aku tersenyum menunggu momen yang tepat untuk bertanya apa harapannya sebagai perempuan dimasa depan, “Saya ingin dipermudah mengelola lahan, berumur panjang dan selalu bahagia bersama keluarga”. ujar nya menutup percakapan kami. Lahan yang dikelola penuh cinta itu memberi harapan bahwa segala yang kita rencanakan kedepan semoga juga dinaungi cinta dan menyebar hingga perasaan para peserta Conference nantinya. Kami melanjutkan perjalanan sambil memastikan beberapa lahan yang akan dijadikan tempat untuk bagi peserta berbagi praktik, pengetahuan dan pengalaman perempuan dalam merawat tanah dan sumber daya alamnya sudah terkendali dan aman untuk hari H.
Semua persiapan ini juga tidak lepas dari kesigapan bu Supri selaku Ketua panitia lokal. Perempuan yang juga pernah menjabat sebagai mantan Kades Desa Bandung Jaya ini, menyambut kami dengan berbagai informasi persiapan. Pagi ini, kami datang kerumahnya sambil melihat beliau sedang memasang poster nomor rumahnya yang akan menjadi salah satu Homestay bagi Peserta. Bu Supri bilang, Hari ini semua rumah yang menjadi Homestay memasang nomor rumah itu untuk menjadi tanda sebagai rumah yang akan di iinap oleh seluruh peserta. Ada 25 rumah yang menjadi Homestay Peserta International Woman Conference yang akan diselenggarakan tanggal 1-4 Februari nantinya. Rumah-rumah itu menyebar di desa Sidorejo, Tugu Rejo, Mekar Sari, Sumber Sari, Bukit Sari, Suka Sari, Bandung Baru dan terakhir Bandung Jaya sebagai desa yang menjadi tempat utama diselenggarakannya kegiatan ini. Keterlibatan Desa-desa ini juga sebagai bentuk komitmen kerjasama semua Kelompok Wanita Tani (KWT) Se-sengkuang yang di komandoi oleh Bu Supri selaku Ketua Kelompok Kaba Indah Lestari dan juga di percaya sebagai koordinator ketua Kelompok Wanita Tani Sengkuang.

Kami duduk di teras ibu Supri saat dia sudah selesai menempelkan poster di dinding rumahnya. Beberapa pertanyaan mengalir, aku menanyakan bagaimana perasaannya saat Desa ini di pilih dan dipercaya untuk menyambut acara IWC 2026. Dia yang selalu ekspresif menatap aku sambil menyampaikan bahwa semua ini seolah membuat dia bersemangat walau sempat merasa tidak percaya akan hal ini
“Perasaan ibu ya, setengah gak percaya. Ada kaget, ragu bisa gak ya… Ada juga seneng. Tapi dengan niat baik dalam hati aku pasti bisa bersama kelompok lain yakin bisa dan senang menjadi tuan rumah untuk acara Conference ini. Apalagi internasional, jarang dan luar biasa serasa mimpi. Karena ini juga pertama kali kelompok tani khususnya perempuan se-Sengkuang bisa mengadakan acara sebesar ini dan kami bangga akan ini. Biasanya kan cuma panitia hajatan kampung”. Ujarnya sembari merapikan kerudung cucunya yang sedikit mereng.
Aku berlanjut menanyakan tantangan yang dia dan panitia lokal lainnya rasakan. Dia terlihat begitu meyakinkan bahwa semua ini bukan sebuah kendala yang terlalu patut di cemaskan atau dianggap kendala apalagi perlu dinarasikan sebagai tantangan. Menurut Bu Supri, hal yang paling terasa adalah untuk meyakinkan semua pihak yang terbiasa ingin merasakan dampak nyata dan membangun rasa semua pihak untuk bisa percaya. Selain itu, perlu adanya koordinasi satu pintu agar dapat memudahkan segala urusan untuk dapat bertanggung jawab sesuai tupoksi kerja masing-masing panitia. Selain itu, Cuaca yang tidak menentu dan cenderung hujan juga memerlukan kesiap siagaan panitia agar tidak menjadi kendala yang berarti.
“Ibu Gak Sabar nunggu hari Acara kita dimulai. Sampai gak tidur nyenyak saking semangatnya.” Bu Supri menyelipkan kalimat itu dengan kebahagiaan yang seolah harus segera diungkapkan agar tidak menjadi Ledakan bom waktu saking membuncahnya.
Percakapan pagi itu kami akhiri dengan memastikan beberapa keperluan terutama terkait Homestay dan hal lainnya sudah diusaikan. Dingin suhu Desa ini meski tidak menusuk tulang tapi menyisakan sejuk di pipi. Hari Pertama panitia menyelesaikan tugas undangan dan lainnya hari ini terselesaikan. Besok kita lanjutkan kembali menyelesaikan tanggung jawab menuju hari yang semakin dekat dan semakin nyata.(NL)
