Hawa dingin Desa Bandung Jaya yang terkenal sebagai Pucuk Sengkuang nyatanya tidak membuat para ibu-ibu patah semangat. Justru di sanalah sumber bara hangat yang tercipta sebab menghitung hari menuju tanggal 1 Februari 2026 semakin dekat. Perpaduan bahasa Jawa dan Sunda serta melayu Bengkulu memecah kesunyian area Gedung Serba Guna (GSG) Desa ini. Bunyi serokan sapu lidi dan tokok palu yang bertemu dengan kayu penyangga Poster selamat Datang menambah riuh.
Semuanya sibuk, jaring laba-laba sampai bunga yang menggigil kedinginan dipeluk angin dan kabut sepanjang hayat itu sebagiannya dibawa kedalam gedung. Rencananya bunga itu untuk mempercantik ruangan. Kursi-kursi yang dipinjam dari desa tetangga juga berangsur-angsur disusun kedalam gedung, poster yang luasnya seolah bisa menampung duduk orang sekampung sudah dipasang menghias dinding. Semua perempuan dari pangkal hingga pucuk sengkuang bekerjasama pagi ini mengangkut, mengelap bahkan juga menyusun segala hal terkait keperluan dihari H nantinya.

Kalau lah orang luar melihat jalan dari ujung simpang gang menuju GSG, mereka tentu merasakan hawa seolah sedang menyambut hari kemerdekaan nasional Indonesia. Seluruh bendera yang ada mereka tegakkan rapi sepajang jalan, menambah aroma nasionalisme nan tak gemetar walau ditelan kabut yang seolah-olah awet menyelimuti Pucuk Sengkuang ini. Bandung Jaya memang terkenal paling awet diselimuti kabut. Tapi beberapa hari sudah terlelap nyenyak di daerah ini, aku menyadari 1 hal bahwa nyatanya, meski hanya berjarak 5-10 menit ke kampung bawah, hujan tidak selalu rata. Dibawah sana, seolah matahari tersenyum riang, dan di pucuk sengkuang, kabut yang sibuk menyerbu seperti selimut. Walau demikian, aktivitas dikampung ini tidak pernah benar-benar terhenti sebelum langit berganti warna gelap. Anak-anak bercelana gantung, juga ibu-ibu yang kadang masih sibuk mengolah lahan tidak menyisakan ruang sunyi kecuali adzan maghrib sudah memanggil. Oh ya, aku hampir lupa, disini Hari Kamis menjadi hari libur nasional warga dari urusan lahan.
Aku mendekati segerombolan ibu-ibu yang sedang mengikat bendera. Mereka tertawa riuh dengan guyonan yang diselimuti bahasa sunda dan jawa sekental kopi tanpa gula. Untungnya aku pernah hidup bertetangga dengan warga trans jawa dan teman-teman sunda sejak masa sekolah. Jadi, semua percakapan itu mengalir bagaikan saluran tiktok yang isi FYP nya dari berbagai penjuru.
3 wanita lintas usia sedang berdiri di dekatku, mereka tersenyum hangat dan seperti biasa mengajak bergurau. Aku menatap bu Sariyah, perempuan Asal Tugu Rejo yang usianya setengah abad itu tersenyum riang menyambutku. Dia sudah datang sejak pukul 09:00 WIB tadi. Bergabung dengan kelompok ibu-ibu yang menyapu dan membersihkan Gedung. Aku tanyakan bagaimana perasaannya terlibat dalam kegiatan ini, sambil memegang kotak nasi makan siang dia menatap ku lebih dalam lagi dengan jawaban yang jelas menyejukkan telinga.
“Saya bangga mbak dilibatkan dengan kegiatan ini. Antusias juga, apalagi ini kegiatan yang gak semua orang bisa dapat. Kami yang cuma perempuan kecil dan jadi petani di kampung seperti ini ya jelas senang sekali. Rumah saya yang jadi Homestay juga sudah saya bersihkan dan rapikan, saya harap tamu-tamu saya nanti merasa nyaman. Tetangga aja bahkan sampe penasaran mbak. Mereka kepo kemaren waktu pasang tanda rumah, dan pada tanya itu apa. Merek penasaran lihat tulisan bahasa inggris yang ada gambar kartun perempuannya. Saya jelaskan sederhana saja, itu semua gambaran aktivitas perempuan yang meski mengurus rumah dan anak, membantu tentangga serta berladang tapi tetap bisa bahagia, tetap bisa senyum seperti di gambar” Ujar bu Sariyah sambil masih mempertahankan kontak matanya yang menyala hangat.
Ibu Amelda dari Desa Bukit sari Ikut menimpali, perempuan usia 40th itu menyela dengan tawa sumringah “Bener mbak, suatu kebanggaan dan kehormatan bagi kami dilibatkan diacara seperti ini. Rasanya bangga sekali, nggak semua orang bisa dapat rezeki jadi panitia Internasional. Saya harap juga semua perempuan tani lebih semangat lagi, karena sebenarnya petani itu kaya dan presiden (pemimpin-red) bagi segalanya. Dari bertani loh, kami bisa dapat apa aja yang kami mau mbak” Ujarnya.
Aku mengangguk sambil menatap berkeliling, Ibu Nengsih nampak hendak turut bicara aku tanyakan lah pendapatnya. Jelas kebanggaan juga terpancar dari wajah yang ramah dan murah senyum itu. “Suatu kebanggaan besar bagi kami dilibatkan pada acara ini mbak. Gak semua orang bisa ikut, bahkan ada pejabat yang minta di undang lewat kami waktu tahu acara ini dari postingan aktivitas kami. Yang penting bagi perempuan semua seperti kita ini adalah semangat. Saya seneng Jadi petani, dan apapun rasa capek ya cukup istirahat, ngeluhnya udah buru kebayar dengan hasil kerja keras melihat anak bisa mendapat pendidikan dan kehidupan yang layak” Ucapnya menahan haru.
Aku sekali lagi bagai merasakan pelukan tanpa sentuhan kulit yang menyelimuti dada ku. Semua perempuan berbangga diri menyambut hari yang sudah hampir 2 bulan kebelakang ini dengan cukup sibuk dipersiapkan. Mereka tidak mengeluh saat disuruh menyusun kursi yang jumlahnya ratusan, tidak bermasalah mengurus surat untuk semua pihak yang perlu dilibatkan, juga tidak manyun saat sibuk gotong royong. Momen ini, terlihat seperti menjadi ruang bagi jiwa mereka yang selama ini terkurung di rumah, diruang kerja dan kelola rumah tangga yang seolah tidak ada habisnya.
Namun yang menakjubkan, semua ini tidak lepas dari support suami mereka dirumah.
“Suami saya sangat mendukung mbak, dia tidak bermasalah dengan semua kesibukan saya belakangan ini. Bahkan, saya juga disuruh suntik vitamin agar tidak terlalu kecapek-an atau bahkan sampai sakit. Dia juga bantu saya menyiapkan rumah kami yang akan menjadi homestay bagi peserta nantinya. Dia sarankan saya untuk tetap menyajikan makanan, agar bisa dicicip meski mungkin ada yang nantinya tidak suka”Bu Amelda menutup kalimat nya dengan tawa dan ternyata tawa itu menular. Kami menutup pertemuan itu dengan pelukan hangat menuju rumah masing-masing. Mempersiapkan diri untuk hari-hari depan yang lebih butuh semangat dan tawa ini lagi. Ya, besok segala persiapan setelah 1 bulan ini yang seolah tiada henti berakhir, perjuangan kami pun dimulai.(NL)

