Erwin Basrin
Tahun 2003, saya sering menyuruh anak saya menonton sebuah film pendek berjudul World Turtle, atau Kura-kura Dunia. Sebagian orang menyebutnya Kura-kura Kosmik. Durasinya cuma sekitar delapan menit. Ceritanya tentang seekor penyu raksasa yang berenang sendirian di luar angkasa. Dari napasnya, perlahan lahir sebuah dunia. Atmosfer terbentuk. Gunung tumbuh. Sungai mengalir. Hutan menutupi tempurungnya. Di atas punggung kura-kura itu, kehidupan dimulai.
Hutan di punggung kura-kura itu lalu dihuni sekelompok monyet. Pada mulanya mereka hidup tenang, selaras dengan alam di sekitarnya. Tapi waktu mengubah mereka. Para monyet jadi serakah. Mereka membangun rumah pohon, lalu jalan, lalu kota yang makin besar. Hutan ditebang. Tempurung kura-kura penuh luka. Kura-kura itu merasa sakit dan terganggu. Pada akhir cerita, ia menyelam ke dalam samudra kosmik yang gelap, dan seluruh peradaban di punggungnya ikut tenggelam. Anak saya menonton bagian itu dengan diam. Saya pun begitu.
Bertahun-tahun kemudian, saya teringat cerita lain. Cerita ini datang dari nenek Saluna, nenek saya, di sebuah kampung tua Rejang. Menurut nenek, bumi bukan benda mati. Bumi adalah ibu. Ia punya tubuh dengan jaringan seperti tubuh manusia. Sungai adalah pembuluh darahnya. Tanah adalah dagingnya. Dan seperti seorang ibu, bumi punya perasaan. Ia bisa mengasihi, dan ia bisa marah. Kalau anak-anaknya keterlaluan, ia akan menunjukkan amarahnya.
Dua cerita itu datang dari dunia yang berbeda. Yang satu film animasi dari layar kaca. Yang lain dongeng lisan dari kampung di pedalaman. Tapi keduanya berkata hal yang sama. Bumi itu hidup. Bumi memberi, tapi bumi juga bisa terluka. Dan kalau kita melukainya terlalu dalam, akibatnya kembali kepada kita. Gagasan sederhana ini ternyata punya sejarah panjang. Ratusan tahun lalu, hampir semua orang memandang bumi seperti yang dikatakan nenek saya. Lalu pandangan itu berubah. Di sinilah cerita ini sebenarnya dimulai.
Cerita nenek saya bukan kepercayaan satu kampung saja. Banyak budaya tua pernah memandang bumi dengan cara yang mirip. Orang Jawa, suku-suku asli Amerika, sampai petani di Eropa pada abad pertengahan, semuanya pernah menganggap bumi sebagai sesuatu yang hidup. Mereka terpisah jarak dan zaman. Mereka tidak saling kenal. Tapi mereka sampai pada gambaran yang sama, yaitu bumi sebagai ibu.
Lalu gambaran itu memudar dari cara berpikir arus utama. Ia tidak hilang dengan sendirinya, dan tidak hilang tanpa sebab. Ada seorang sejarawan yang menelusuri kapan dan kenapa hal itu terjadi. Namanya Carolyn Merchant. Untuk memahami temuannya, kita perlu berpindah tempat dan waktu sejenak, ke Eropa beberapa ratus tahun lalu.
Bayangkan hidup di Eropa pada tahun 1400-an. Saat memandang bumi, yang terlihat bukan benda mati. Bumi itu hidup. Ia ibu yang memberi makan. Sungai adalah pembuluh darahnya. Logam tumbuh di dalam perutnya seperti janin dalam rahim. Gempa adalah napas atau amarahnya.
Pandangan ini terdengar aneh di telinga modern. Tapi selama ratusan tahun, inilah cara umum orang Eropa memahami alam. Carolyn Merchant menyebutnya pandangan organik. Dalam bukunya, The Death of Nature, yang terbit pada 1980, ia menelusuri bagaimana pandangan ini lahir, lalu mati.
Pandangan organik tidak berhenti pada bumi. Seluruh alam semesta dianggap satu makhluk besar yang hidup. Bintang, planet, dan bumi terhubung dalam satu tubuh raksasa. Manusia dianggap versi kecil dari alam semesta itu. Tubuh manusia adalah dunia dalam ukuran mungil, dan dunia adalah tubuh dalam ukuran raksasa. Apa yang ada di tubuh kita dianggap ada pula di tubuh bumi. Darah, daging, napas, semuanya punya pasangan di alam.
Di titik ini saya teringat lagi kata-kata nenek saya. Ia bilang bumi punya jaringan seperti tubuh manusia. Sungai sebagai pembuluh darah, tanah sebagai daging. Gambaran itu hampir sama persis dengan yang dipercaya orang Eropa ratusan tahun lalu. Dua kebudayaan yang tak pernah bertemu sampai pada gambaran yang sama. Menurut saya, itu bukan kebetulan kecil. Itu menunjukkan betapa tuanya cara manusia memandang bumi sebagai sesuatu yang hidup.
Dan kematian pandangan itu, menurut Merchant, mengubah segalanya. Gambaran bumi sebagai ibu bukan cuma puisi. Ia punya akibat nyata pada perilaku.
Logikanya sederhana. Orang tidak akan dengan mudah melukai ibunya sendiri. Orang tidak akan menggali isi perutnya untuk mencari emas. Selama bumi dianggap hidup dan punya perasaan, merusaknya terasa seperti pelanggaran moral. Gambaran ibu bumi bekerja sebagai pembatas. Ia membuat orang menahan diri.
Merchant menunjukkan ini lewat contoh pertambangan. Sejak zaman kuno, menambang sudah jadi pekerjaan yang dipertanyakan secara moral. Penulis Romawi bernama Pliny mengecam penggalian logam. Menurutnya, manusia merobek tubuh ibu bumi untuk mengambil emas dan besi, lalu memakai logam itu untuk berperang dan memuaskan keserakahan. Ada rasa bersalah yang menempel pada pekerjaan menambang. Orang merasa sedang mengambil sesuatu yang sengaja disembunyikan bumi di tempat yang dalam.
Lalu rasa bersalah itu perlahan menghilang. Pada abad ke-16, pertambangan komersial tumbuh pesat. Permintaan logam meledak seiring perang, perdagangan, dan pembangunan. Seorang penulis Jerman bernama Georgius Agricola bahkan menulis buku tebal untuk membela pertambangan. Ia berkata penambangan itu berguna, dan keberatan-keberatan lama hanyalah takhayul. Yang menarik di sini, kata Merchant, adalah kenyataan bahwa menambang kini perlu dibela. Itu pertanda larangan moral yang lama sudah mulai retak. Kebutuhan ekonomi mulai mengalahkan rasa hormat pada bumi.
Nenek saya pernah bilang bumi bisa mengasihi dan bisa marah. Tanpa ia sadari, ia sedang menyentuh gagasan yang juga ada dalam buku Merchant. Sebab gambaran alam sebagai perempuan ternyata punya dua wajah.
Wajah pertama adalah ibu yang baik. Lembut, merawat, memberi makan. Inilah wajah yang menahan orang dari merusak. Wajah kedua jauh lebih liar. Alam juga dilihat sebagai perempuan yang tak terkendali. Badai, kekeringan, banjir, dan wabah. Alam yang mengamuk dan menghancurkan tanpa ampun.
Wajah kedua inilah yang berbahaya, kata Merchant. Kalau alam dianggap liar dan kacau, muncul satu pikiran baru. Alam yang mengamuk harus dijinakkan. Alam yang membangkang harus ditundukkan. Gagasan tentang kuasa atas alam justru tumbuh dari rasa takut pada alam yang tak terkendali. Orang ingin menguasai apa yang mereka takuti.
Pikiran ini punya kembaran yang gelap. Pada masa itu, perempuan yang dianggap liar atau membangkang juga dicurigai. Mereka bisa dituduh sebagai penyihir. Jadi gambaran perempuan yang kacau dipakai untuk dua hal sekaligus, yaitu membenarkan penundukan alam dan penundukan perempuan. Dua gagasan modern lahir hampir bersamaan dari sini. Yang satu, alam sebagai mesin yang bisa dikendalikan. Yang lain, manusia sebagai penguasa alam. Keduanya kelak jadi inti dunia modern.
Pergeseran besar terjadi antara tahun 1500 dan 1700. Periode ini sering disebut Revolusi Ilmiah. Biasanya kita memujinya sebagai zaman lahirnya sains modern. Merchant tidak menolak itu. Tapi ia melihatnya dari sudut yang jarang dibahas, yaitu apa yang hilang dalam perubahan itu.
Di tangan para pemikir baru, alam berhenti dianggap hidup. Alam jadi mesin. Tersusun dari bagian-bagian kecil. Bergerak menurut hukum yang tetap. Tanpa jiwa, tanpa perasaan, tanpa tujuan. Gambaran yang sering dipakai pada masa itu adalah jam raksasa. Tuhan diibaratkan pembuat jam yang menyetel alam semesta, lalu membiarkannya berputar sendiri menurut aturan yang pasti.
Beberapa tokoh menonjol dalam cerita ini. René Descartes membayangkan tubuh hewan sebagai mesin tanpa perasaan, dan memisahkan pikiran manusia dari materi. Thomas Hobbes melihat seluruh dunia sebagai materi yang bergerak. Isaac Newton merumuskan hukum-hukum gerak yang berlaku dari buah apel yang jatuh sampai planet yang mengelilingi matahari. Dunia yang dulu dipahami sebagai organisme kini dipahami sebagai mesin yang teratur dan bisa diramalkan.
Cara pandang ini sangat kuat, dan Merchant mengakuinya. Memandang alam sebagai mesin membuat orang bisa mengukur, meramalkan, dan membangun. Dari sinilah teknologi modern tumbuh. Tapi ada harganya. Begitu alam dianggap mesin mati, ia kehilangan suaranya. Mesin tidak punya perasaan yang perlu dihormati. Inilah yang Merchant sebut “kematian alam”. Alam yang dulu hidup kini dinyatakan mati. Dan benda mati bisa dibongkar, diukur, serta dipakai sesuka hati. Pembatas moral yang lama lenyap.
Satu tokoh berdiri di tengah cerita ini, yaitu Francis Bacon. Ia hidup di Inggris pada akhir tahun 1500-an sampai awal 1600-an, dan sering disebut bapak metode ilmiah modern. Merchant memberinya perhatian khusus, dan kesimpulannya tajam.
Bacon bukan cuma filsuf. Ia juga ahli hukum yang menduduki jabatan tinggi dan terlibat dalam pengadilan pada masanya, termasuk pengadilan terhadap perempuan yang dituduh sebagai penyihir. Merchant memperhatikan bahasa yang Bacon pakai untuk menggambarkan sains, dan menemukan kemiripan yang mengganggu.
Dalam tulisan Bacon, alam digambarkan sebagai perempuan. Rahasianya harus dikorek keluar. Ia harus diikat dan dipaksa melayani manusia. Ia harus ditaklukkan agar tunduk pada kehendak kita. Bahasa semacam ini, kata Merchant, mirip dengan bahasa ruang sidang dan interogasi. Pada masa itu, perempuan yang dituduh menyihir memang diinterogasi, kadang dengan siksaan, untuk membongkar rahasia mereka. Bacon, menurut Merchant, memindahkan model interogasi itu ke dalam sains. Alam diperlakukan seperti tersangka yang harus ditanyai. Eksperimen jadi cara mengurung alam dalam kondisi terkendali, lalu memaksanya menjawab pertanyaan.
Bacon bahkan membayangkan masyarakat ideal dalam sebuah cerita berjudul New Atlantis. Di dalamnya ada lembaga riset bernama Rumah Salomon. Tugasnya mempelajari rahasia alam demi memperluas kuasa manusia atas segala sesuatu. Ini salah satu gambaran paling awal tentang lembaga sains modern. Tujuannya jelas, yaitu pengetahuan demi kuasa. Bumi yang dulu ibu pemberi kehidupan kini jadi sumber rahasia untuk diperas demi kemajuan ekonomi.
Merchant berhati-hati di sini, dan kita juga perlu berhati-hati. Ia tidak mengatakan Bacon menyuruh orang menyiksa alam secara harfiah. Yang ia tunjukkan adalah pola bahasa dan pola pikir. Tafsir ini diperdebatkan sampai sekarang. Sebagian sejarawan menilainya terlalu keras pada Bacon. Sebagian lain menganggapnya tepat dan penting. Merchant sendiri menegaskan ia tidak pernah berkata Bacon menganjurkan penyiksaan terhadap alam. Perdebatan yang masih hidup ini justru menunjukkan betapa kuat pengaruh bukunya.
Bagian inilah yang membuat buku Merchant jadi tonggak gerakan ekofeminisme. Ekofeminisme adalah cara berpikir yang melihat hubungan antara penindasan atas alam dan penindasan atas perempuan.
Perhatikan waktunya. Periode yang sama yang melahirkan sains mekanistik juga menyaksikan hal-hal lain. Selama berabad-abad, perempuan adalah penyembuh, bidan, dan peramu obat dari tumbuhan. Mereka memegang pengetahuan tentang tubuh, kelahiran, dan tanaman. Pada masa ini, peran itu perlahan diambil alih. Kedokteran dan universitas jadi wilayah laki-laki. Perempuan penyembuh didorong keluar, dan sebagian dari mereka justru dituduh sebagai penyihir.
Perburuan penyihir sendiri memuncak kira-kira antara tahun 1450 dan 1700. Puluhan ribu orang dihukum mati di Eropa, dan sebagian besar korbannya perempuan. Pada saat yang sama, struktur hukum dan sosial yang menempatkan laki-laki sebagai kepala makin kuat. Perempuan kehilangan banyak peran yang dulu memberi mereka kuasa.
Merchant melihat satu pola di balik semua ini. Alam dan perempuan sama-sama dianggap perlu dikendalikan oleh laki-laki. Keduanya dikaitkan dengan tubuh, dengan perasaan, dan dengan kekacauan yang harus ditertibkan. Ketika alam dijinakkan dan dijadikan mesin, perempuan juga makin disisihkan. Dua bentuk penindasan ini berjalan beriringan dan saling menguatkan. Dari sinilah lahir gagasan inti ekofeminisme. Dominasi atas alam dan dominasi atas perempuan bukan dua cerita terpisah. Keduanya berakar pada cara pandang yang sama.
Merchant tidak berhenti pada ide di kepala orang. Ia menghubungkannya dengan ekonomi dan dengan perubahan nyata di lapangan.
Pergeseran ke pandangan mekanistik terjadi bersamaan dengan tumbuhnya kapitalisme. Tujuan produksi bergeser. Dulu orang bertani dan beternak terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kini produksi makin diarahkan untuk dijual dan mengejar keuntungan. Perubahan ini mengubah cara orang memperlakukan tanah.
Akibatnya terlihat di banyak tempat. Tanah bersama yang dulu dipakai warga desa untuk merumput dan mencari kayu mulai dipagari dan dijadikan milik pribadi. Rawa-rawa luas dikeringkan untuk membuka lahan pertanian baru. Hutan ditebang untuk kayu, kapal, dan bahan bakar, dengan skala yang sebelumnya tak terbayangkan. Bumi diperlakukan sebagai lahan yang menunggu diolah dan dijual.
Pandangan alam sebagai mesin sangat cocok dengan kebutuhan ini. Kalau alam cuma benda mati, tidak ada alasan moral untuk menahan diri. Alam bisa dikelola, diukur, dan dihitung seperti barang dagangan. Merchant berpendapat cara pandang ini membenarkan pengelolaan atas alam sekaligus atas masyarakat. Gagasan dan ekonomi berjalan beriringan, saling membenarkan satu sama lain.
Satu hal penting perlu ditegaskan. Merchant tidak menganggap perubahan ini sebagai takdir yang tak terhindarkan. Dunia tidak harus berakhir dengan alam yang dianggap mesin.
Pada masa yang sama, ada arus lain yang melawan. Sebagian pemikir tetap percaya alam itu hidup dan saling terhubung. Tabib dan filsuf seperti Paracelsus memandang alam penuh daya hidup yang tersembunyi, bukan benda mati. Di Inggris, sekelompok orang yang disebut kaum Digger, dipimpin Gerrard Winstanley, percaya bumi adalah milik bersama semua orang, bukan untuk dipagari dan dikuasai segelintir pihak.
Ada pula suara perempuan. Filsuf Anne Conway berpendapat seluruh alam semesta tersusun dari satu zat yang sama, dan setiap bagiannya punya kehidupan serta saling bergantung. Pemikiran Conway ikut memengaruhi filsuf besar seperti Leibniz. Arus-arus ini akhirnya kalah oleh pandangan mesin. Tapi keberadaan mereka membuktikan satu hal penting. Dunia sebagai mesin bukan satu-satunya pilihan yang tersedia. Manusia memilihnya di antara pilihan-pilihan lain. Dan kalau itu memang sebuah pilihan, maka secara prinsip pilihan lain masih mungkin diambil.
Cerita ini tidak berhenti pada abad ke-17. Pada abad ke-20, sebagian dari pandangan organik yang lama justru muncul lagi, kali ini lewat sains.
Ilmu ekologi menunjukkan bahwa makhluk hidup dan lingkungannya saling terhubung dalam satu jaringan. Mencabut satu bagian bisa mengguncang seluruhnya. Pada tahun 1970-an, ilmuwan James Lovelock mengajukan gagasan yang ia sebut hipotesis Gaia. Menurutnya, bumi berperilaku seperti satu sistem hidup yang mengatur dirinya sendiri, menjaga suhu dan susunan udara agar tetap menopang kehidupan. Gagasan ini terdengar seperti gema dari pandangan lama tentang bumi sebagai tubuh yang hidup, hanya saja kini dibungkus bahasa sains.
Merchant sendiri, dalam karya-karyanya yang lebih baru, menawarkan apa yang ia sebut etika kemitraan. Intinya, manusia dan alam sebaiknya diperlakukan sebagai mitra, bukan sebagai tuan dan budak. Manusia punya kebutuhan, alam juga punya kebutuhan, dan keduanya perlu dipenuhi tanpa salah satu menindas yang lain. Pandangan organik, ternyata, tidak benar-benar mati. Ia hanya menunggu untuk dipikirkan ulang.
Masuk ke dalam karya-karyanya, judul buku Merchant punya dua makna sekaligus. Makna pertama adalah kematian sebuah gagasan. Gagasan tentang alam yang hidup mati pada Revolusi Ilmiah, lalu digantikan gagasan alam sebagai mesin.
Makna kedua adalah kematian yang lebih harfiah. Begitu alam dianggap mati dan bebas dikuras, kerusakan ekologi yang sebenarnya pun dimulai. Gagasan tentang alam yang mati membuka kemungkinan bagi alam yang benar-benar sekarat.
Di sinilah letak pesan Merchant untuk pembaca masa kini. Krisis lingkungan yang kita hadapi bukan kecelakaan baru. Akarnya tertanam ratusan tahun lalu, di cara kita belajar memandang alam. Selama kita masih memperlakukan bumi sebagai gudang benda mati, masalahnya akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda-beda.
Merchant tidak menyodorkan rumus penyelesaian yang rapi. Tapi ia menunjuk arah. Kita perlu menengok ulang gambaran yang kita warisi. Mungkin sebagian dari pandangan lama, yang melihat alam sebagai sesuatu yang hidup dan layak dihormati, perlu kita hidupkan kembali. Bukan untuk menolak sains, tapi untuk menata ulang hubungan kita dengan dunia yang menopang hidup kita.
Saya kembali ke kura-kura kosmik yang dulu ditonton anak saya. Penyu raksasa itu memberi dunia kehidupan lewat napasnya. Tapi ketika penghuninya jadi serakah dan melukai tempurungnya, ia menyelam dan menenggelamkan semuanya. Film anak-anak berdurasi delapan menit itu, tanpa banyak kata, menyampaikan peringatan yang sama dengan Merchant. Bumi yang kita anggap benda mati ternyata bisa menjawab. Dan jawabannya bisa keras.
Nenek saya tidak pernah membaca buku Merchant. Ia tidak tahu apa itu Revolusi Ilmiah atau ekofeminisme. Tapi ia tahu satu hal yang sering kita lupakan. Bumi bisa mengasihi, dan bumi bisa marah. Apa yang ditulis Merchant dengan ratusan halaman sejarah dan filsafat, sebenarnya sudah lama disimpan nenek saya dalam satu kalimat sederhana di kampung tua Rejang. Itulah kekuatan buku The Death of Nature. Ia mengingatkan kita pada sesuatu yang dulu kita tahu, lalu kita lupakan.
Lebih dari empat dekade setelah terbit, pertanyaan yang diajukan Merchant masih menggantung di depan kita. Bagaimana kita memandang alam? Sebagai benda mati yang menunggu diolah, atau sebagai sesuatu yang hidup dan punya hak untuk dihormati? Jawaban kita atas pertanyaan itu, kata Merchant, ikut menentukan masa depan kita bersama bumi. Dan kalau cerita kura-kura tadi benar, bumi tidak akan menunggu selamanya.
