Komunitas Masyarakat adat enggano melakukan workshop Bersama Akar global inisiatif pada 2-3 maret 2026 di Aula Hotel Wilo, yang berlokasi di Jl. Putri Gading Cempaka No. 22, Kec, Ratu Samban, Penurunan Kota Bengkulu.
Acara yang bertajuk; “Refleksi hasil bertukar pembelajaran dan Menyusun acara aksi Bersama” telah di hadiri oleh 20 orang Peserta yang mewakili Masyarakat Adat Enggano. 20 peserta tersebut, masing-masing sudah ada perwakilan dari 6 suku yang ada di Enggano yaitu Ka’ahua, Kaitora, Kaarubi, Kauno, Kaharuba dan Kamay.
Sebelumnya sudah dilaksanakan kegiatan Exchange learning (bertukar belajar) yang dilakukan oleh 7 orang perwakilan Masyarakat Enggano dan di dampingi oleh pihak Akar Global inisiatif pada tanggal 13-17 Februari lalu di Masyarakat Hukum Adat (MHA) Negeri Haruku Maluku Tengah. Kegiatan bertukar belajar ini bertujuan agar pihak perwakilan Masyarakat Enggano dapat belajar tentang penerapan MHA Negeri Haruku di Maluku Tengah, yang nantinya dapat menginspirasi penerapan MHA Enggano yang sekarang tengah diusulkan.
Senin 2 maret 2026, pukul 09.30, acara pembukaan dimulai. Dalam pembukaan acara, Erwin Basrin selaku direktur Akar Global Inisiatif memberi sambutan hangat kepada para peserta Workshop. Dalam sambutannya Erwin menyampaikan bahwa: “bagi masyararakat Enggano hak Kelola darat dan laut itu tidak dapat dipisahkan, sebab jika daratnya rusak maka lautpun akan ikut rusak, dan sebaliknya jika lautnya yang rusak maka, daratnya juga ikut rusak. Sedangkan kita ketahui dalam administrasi Pemerintah Pusat, untuk mendapatkan hak Kelola Hutan Adat, ini semestinya kita berurusan dengan Kementerian Kehutanan sedangkan untuk Hak Kelola Laut kita harus berurusan dengan Kementerian Kelautan” selanjutnya Erwin berharap agar nanti Perda yang diusulkan untuk di disahkan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara sudah merangkum kebutuhan Masyarakat Enggano tentang hak Kelola darat (Hutan) dan Hak Kelola laut sekaligus.
Selanjutnya, acara diteruskan dengan pemaparan hasil bertukar belajar oleh 7 orang peserta dari Enggano yang sebelumnya juga mengikuti kegiatan bertukar belajar pada Masyarakat Adat Negeri Haruku dan juga pemaparan dari pihak Akar Global inisiatif untuk disampaikan kembali kepada peserta lain agar semua dapat memahami tentang penerapan MHA di Negeri Haruku. Hal ini tentu saja tidak berarti untuk mereflikasi sepenuhnya apa yang diterapkan di Negeri Haruku, jelas hal tersebut tidak mungkin. Sebab Enggano sebagai Masyarakat Adat memiliki Khas nya sendiri. Karena itu, yang penting disini adalah melalui perwakilan dari Masyarakat Adat Enggano Bertukar belajar, dapat memberi informasi, referensi, dan inspirasi bagaimana MHA diterapkan pada tingkat praktik.
