Hujan turun sejak malam sebelumnya, membasahi jalan-jalan di Desa Bandung Jaya, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu—desa yang untuk beberapa hari ke depan menjadi ruang temu dan ruang pulang bagi para perempuan dari berbagai penjuru. Mereka datang dengan tubuh yang lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari kampung masing-masing. Dingin menyergap pelan, namun tak memadamkan semangat. Satu per satu peserta tiba di desa, disambut rumah-rumah warga yang untuk beberapa hari ke depan akan menjadi ruang singgah dan ruang pulang. Malam itu, tubuh-tubuh yang letih segera bergelung di balik selimut, beristirahat setelah seharian mengukur jarak, jalan, dan waktu.

Pagi hari, Gedung Serba Guna telah dipenuhi sejak pukul delapan. Perempuan dengan beragam bahasa, warna kulit, warna rambut, dan warna pakaian membaur dalam satu ruang. Ada yang saling menyapa dan berkenalan, ada pula yang memilih diam, tenggelam dalam layar gawai masing-masing. Gerimis lalu-lalang dibawa angin. Anak-anak berlarian seolah hari ini adalah pesta. Di sudut belakang gedung, para pemuda dengan pakaian khas daerah dan ikat kepala berdiri berkelompok. Di sudut lain, perempuan-perempuan berkebaya hijau dengan sunting emas di kepala memenuhi ruangan. Semua hadir dengan caranya masing-masing.

Gedung itu sendiri baru saja dibersihkan pagi hari. Semalaman, hujan sempat merembes masuk, meninggalkan genangan kecil. Namun kini, ruang itu siap menjadi saksi pertemuan. Satu per satu penampilan seni berlalu, hingga akhirnya tiba pada sesi yang kerap dianggap formal—sesi yang sering memancing kantuk, tetapi juga kadang melahirkan harapan dan api semangat. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu.

Acara dibuka dengan tabuhan dol. Anak-anak laki-laki dengan ikat kepala memegang sepasang stik pemukul dol yang diikat kain batik. Mereka mengenakan baju hitam dengan corak warna hasil jahitan. Suara dol menggema, menembus dinding gedung. Sebagian besar peserta mengangkat gawai, mengabadikan momen penyambutan yang terasa meriah sekaligus sakral.

Doc.Akar: Penampilan Dol dalam acara pembukaan ICW 2026

Di deretan kursi depan, para undangan kehormatan telah duduk sejak awal. Direktur AGI, Erwin Basrin, tampak menyimak jalannya acara. Di sampingnya, Masidayan, S.Si., M.AP., Asisten II, hadir bersama Wakil Ketua II Ansori. Dua anggota DPRD dari Dapil IV—Erwin Agustinus dan Eko Susilo—turut memenuhi barisan. Camat Yunanto Yudi Nugroho duduk berdekatan dengan Ketua Baznas Kepahiang, Drs. H. Rusmedi, M.M. Perwakilan Polres Kepahiang, Wulan, hadir dengan seragam rapi. Zamhari dari BKKBN Provinsi Bengkulu, Kepala Desa Bandung Jaya Suwandi, Suprianti selaku Ketua KWT Kaba Indah Lestari, serta Titin Verayensi, SKM, MKM, Asisten II Rejang Lebong, melengkapi barisan depan. Mereka menyaksikan pertemuan yang sejak awal telah diisi suara dan gerak perempuan.

Bang Erwin Basrin kemudian berdiri menyampaikan sambutan. Dengan pandangan yang memutari ruangan sebisanya, ia berbicara tentang ibu, tentang hati, dan tentang perbedaan cara perempuan dan laki-laki merawat kehidupan. Ia mengingat bagaimana ia pertama kali makan dari tangan seorang ibu, bagaimana perempuan memiliki ketelatenan dan kepekaan yang melahirkan hukum adat. Ia mengutip Bunda Teresa tentang jarak hati yang kerap lebih menentukan daripada jarak fisik. Perawatan, katanya, selalu dimulai dari hati. Konferensi ini adalah upaya merawat relasi yang sempat terputus—antara perempuan dan sumber daya alam mereka—agar perempuan tidak menjadi korban pasar.

Sambutan itu ditutup dengan tepuk tangan. MC kemudian memanggil Suprianti. Perempuan itu maju dengan senyum yang memancarkan kelegaan setelah hampir sebulan penuh persiapan. Ia menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak dan menegaskan bahwa tujuan pertemuan ini bersifat positif: menyatukan isi hati perempuan tanpa gaduh dan huru-hara. Ia meminta maaf jika ada ketidaknyamanan selama tinggal di rumah warga. “Hidup perempuan!” serunya lantang, mengangkat tangan ke udara.

Doc.Akar: Penampilan Tari adat kreasi khas Kepahiang yang ditarikan oleh kelompok Perempuan Desa Bandung Jaya

Sambutan diselingi penampilan tari kreasi adat modern Kepahiang. Para penari mengenakan busana hijau dengan selendang kuning. Wajah mereka yang telah dirias tampak sumringah. Setelah itu, Kepala Desa Bandung Jaya, Suwandi, menyampaikan sambutan. Ia berharap pertemuan ini membawa manfaat dan berkah, mempererat silaturahmi, serta membuka jalan pengembangan wisata desa. Ia menitipkan para peserta kepada warga dan menyuarakan harapan agar homestay warga dapat terus dibina. Di akhir sambutan, ia juga menyampaikan kegelisahan tentang posisi kepala desa yang kerap berada di bawah tekanan, namun jarang diperhatikan kesejahteraannya.

Zamhari dari BKKBN Provinsi Bengkulu memulai sambutannya dengan pantun. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor—pemerintah, masyarakat, dunia usaha, pendidikan, dan media—untuk membangun secara gotong royong. Pertemuan ini disebutnya sebagai momentum memperkuat solidaritas atas tanah dan kehidupan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Di era digital, suara perempuan akar rumput, katanya, dapat menjangkau tingkat yang lebih tinggi. Konferensi ini adalah model berharga yang membangun jembatan antara pemerintah dan masyarakat sipil.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Masidayan, S.Si., M.AP., Asisten II. Ia berdiri dari kursinya dan menyapa seluruh peserta dengan nada yang tenang namun tegas. Dalam sambutannya, Masidayan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pertemuan ini di tengah keterbatasan dan tantangan yang ada. Menurutnya, konferensi ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang penting untuk mempertemukan suara perempuan dengan para pengambil kebijakan.

Doc.Akar: Sambutan terakhir disampaikan oleh Masidayan, S.Si., M.AP., Asisten II sekaligus membuka acara

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah menyambut baik inisiatif yang dibangun oleh perempuan dan organisasi masyarakat sipil. Kehadiran para perempuan dari berbagai daerah, latar belakang, dan komunitas adat, disebutnya sebagai kekuatan yang harus dijaga. Masidayan juga menyinggung potensi wilayah Kepahiang—baik alam maupun manusianya—yang perlu dirawat dan dikembangkan secara bersama, tanpa meninggalkan masyarakat lokal sebagai pemilik ruang hidup.

Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh pihak untuk membangun daerah dengan prinsip gotong royong. Pembangunan, katanya, tidak akan berjalan tanpa partisipasi masyarakat, terutama perempuan yang selama ini berperan besar dalam merawat keluarga, komunitas, dan sumber daya alam. Ia berharap pertemuan ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi melahirkan gagasan dan kerja nyata yang dapat ditindaklanjuti bersama.

Masidayan menutup sambutannya dengan mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta. Ia berharap para tamu tidak hanya mengikuti rangkaian acara, tetapi juga menikmati keindahan alam Kepahiang, dan suatu hari kembali lagi bersama keluarga. Dengan itu, ia secara resmi membuka acara dengan tabuhan dol bersama para undangan yang hadir, menandai dimulainya seluruh rangkaian kegiatan konferensi.

Setelah jeda kopi, suasana berubah lebih intim.

Setelah jeda kopi, suasana di dalam gedung perlahan berubah menjadi lebih intim. Riuh percakapan mereda. Peserta kembali mengambil tempat duduk, sebagian masih memeluk cangkir kopi atau teh hangat. Di ruang yang mulai tenang itu, Dinar berdiri dan menyampaikan alasan mengapa pertemuan ini digelar.

Ia memulai dengan satu pengakuan sederhana: perempuan hampir tidak pernah benar-benar membagi beban hidupnya. Jika pun berbagi, sering kali hanya kepada sesama perempuan, itu pun dengan batas-batas tertentu. Banyak cerita dipendam sendiri—tentang lelah, tentang takut, tentang marah, tentang kehilangan—karena tak ada ruang yang cukup aman untuk menampungnya. Dinar kemudian mengaitkan pengalaman personal itu dengan situasi yang lebih luas. Di banyak wilayah adat, perempuan menghadapi perampasan ruang hidup. Tanah, hutan, laut, dan sumber penghidupan direnggut oleh negara, perusahaan, dan berbagai kepentingan lain. Ketika tanah dirampas, katanya, yang hilang bukan hanya lahan, tetapi juga kehidupan, kebudayaan, dan praktik keseharian. Segala yang selama ini dirawat bersama berubah menjadi objek dan komoditas.

Dalam kondisi seperti itu, perempuan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak, namun suaranya paling jarang didengar. Konferensi ini, menurut Dinar, bukan sekadar pertemuan untuk berbagi cerita, tetapi upaya membangun kembali kebersamaan yang sempat tercerabut. Sebuah ruang untuk merawat ulang relasi—dengan tanah, dengan sumber daya, dan dengan sesama—melalui praktik berladang, pengelolaan sumber daya alam, serta gerakan dan kebudayaan yang sempat hilang dari kepemilikan bersama.

Ia menegaskan bahwa merawat kehidupan adalah cara perempuan menghadapi kekuatan pasar yang jauh lebih besar. Karena itu, pertemuan ini dimaksudkan sebagai ruang pemulihan, bukan ruang yang menambah kelelahan. Dinar mengakui bahwa banyak konferensi justru membuat peserta pulang dengan kepala penuh dan tubuh letih. Berbeda dengan itu, pertemuan ini diharapkan menjadi ruang aman, tempat perempuan bisa merasa pulih, saling menguatkan, dan membangun solidaritas tanpa merasa ditinggalkan.

Tujuan lainnya bersifat politis sekaligus strategis. Dinar menyampaikan rencana untuk menyusun satu dokumen politik bersama—dokumen yang dapat digunakan ketika berhadapan dengan pihak eksternal, baik negara maupun aktor lain yang menindas dan menyengsarakan perempuan. Suara perempuan adat, katanya, tidak cukup hanya didengar oleh pejabat di tingkat lokal atau nasional, apalagi jika hanya disimak tanpa ditindaklanjuti. Suara itu harus menggema hingga tingkat global. Ia menutup penyampaiannya dengan harapan agar konferensi ini menjadi titik temu antara pengalaman hidup perempuan dan perjuangan yang lebih luas. Bahwa apa yang dirasakan dan dialami perempuan tidak lagi ditanggung sendiri, melainkan dihadapi bersama—dengan keberanian untuk bersuara dan dengan keyakinan bahwa kehidupan layak dirawat.

Doc.Akar: Peserta sedang mengambil undian pembentukan kelompok

Sesi pemulihan menjadi inti pertemuan. Peserta dibagi ke dalam sembilan kelompok lintas daerah. Ruang itu dinyatakan sebagai ruang aman. Pertanyaan-pertanyaan diajukan: di mana rasa sakit berada, apa yang dibutuhkan untuk pulih, dan apa yang memulihkan. Cerita-cerita pun mengalir—tentang sakit fisik akibat kerja domestik, kecemasan yang bersumber dari pikiran, dan luka di hati yang memengaruhi seluruh tubuh. Dukungan keluarga, ruang untuk diri sendiri, dan kebersamaan dengan perempuan lain menjadi kunci pemulihan.

Setelah sesi diskusi kelompok berlangsung intens, peserta diberi waktu untuk beristirahat. Siang itu dimanfaatkan untuk makan bersama dan menunaikan salat. Tubuh-tubuh yang sejak pagi duduk, berbagi cerita, dan menampung emosi akhirnya mendapat jeda. Di sela makan siang, percakapan ringan kembali mengalir—tentang rumah, perjalanan, hingga hal-hal kecil yang sempat terlewat di ruang diskusi.

Usai beristirahat, peserta belum langsung kembali ke ruang pertemuan. Mereka terlebih dahulu menikmati pertunjukan Lembu Suro yang digelar di luar gedung. Musik tradisional mulai mengalun, ritmenya menghentak dan segera menarik perhatian. Para penari Lembu Suro bergerak lincah, mengenakan kostum khas yang mencolok. Suasana yang semula tenang berubah menjadi riuh dan penuh tawa.

Beberapa peserta awalnya hanya menonton dari pinggir, namun perlahan mereka ikut terseret ke tengah lingkaran. Ada yang bertepuk tangan mengikuti irama, ada yang bangkit dari tempat duduk dan menari bersama penari Lembu Suro. Saweran pun mengalir—uang diselipkan dengan senyum dan sorak sorai, menjadi bentuk apresiasi sekaligus kegembiraan bersama. Di momen itu, jarak antara penonton dan penampil seakan lenyap. Semua larut dalam ritme, dalam tubuh yang bergerak bebas, dalam tawa yang lepas.

Setelah pertunjukan usai, peserta kembali memasuki gedung. Suasana masih hangat oleh kegembiraan yang tertinggal di tubuh—napas yang lebih ringan, wajah yang lebih terbuka. Mereka kembali duduk melingkar sesuai kelompok, membawa serta cerita, rasa, dan hasil perenungan dari sesi diskusi sebelumnya.

Satu per satu kelompok mulai menyampaikan hasil diskusi. Cerita yang muncul tidak seragam, namun berkelindan dalam pengalaman yang mirip. Banyak perempuan bercerita tentang tubuh yang lelah dan sakit—nyeri di punggung, pinggang, perut—akibat kerja domestik dan kerja di lahan yang terus-menerus. Beberapa menyebut kecemasan yang datang berulang, pikiran yang tak pernah benar-benar beristirahat, serta beban emosional yang dipikul sendirian.

Kelompok ketujuh, misalnya, menyampaikan bahwa sebagian besar perempuan yang menikah mengalami keluhan fisik yang berkepanjangan. Namun sakit itu tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan kecemasan, tekanan peran, dan minimnya ruang untuk diri sendiri. Latar belakang sebagai petani perempuan atau pekerja rumah tangga membuat tubuh terus bekerja, sementara kesempatan untuk pulih nyaris tak tersedia. Pengobatan medis kerap tidak cukup. Yang dibutuhkan justru dukungan keluarga—terutama persetujuan dan dukungan suami—serta pengakuan atas pilihan pengobatan tradisional yang selama ini menjadi bagian dari pengetahuan perempuan.

Doc.Akar: Peserta mewakili kelompok mereka menyampaikan hasil diskusi

Beberapa kelompok menegaskan bahwa sakit paling dalam sering kali berada di hati dan perasaan. Luka emosional itu kemudian menjalar ke tubuh, memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Karena itu, pemulihan tidak selalu berarti obat, melainkan ruang. Ruang untuk diri sendiri. Ruang untuk berkumpul dengan sesama perempuan yang memiliki kegelisahan serupa. Ruang untuk berbagi cerita tanpa takut dihakimi.

Dari cerita-cerita itu, muncul kesadaran tentang pentingnya pengalaman kolektif. Dengan berkumpul, perempuan tidak hanya saling menguatkan, tetapi juga membangun pengetahuan bersama. Rekreasi sederhana, keterlibatan dalam kegiatan komunitas, dan pertemuan seperti konferensi ini disebut sebagai bagian dari proses pemulihan—memberi ruang bagi perempuan untuk merasakan dirinya utuh.

Diskusi juga menyinggung beban kerja domestik yang berdampak langsung pada kesehatan fisik, serta pola asuh dan relasi keluarga yang memengaruhi tingkat kecemasan. Dalam banyak pengalaman, perempuan masih sering berada dalam posisi subordinat, bahkan dalam ruang pengambilan keputusan keluarga. Karena itu, ruang khusus bagi perempuan dipandang penting—ruang yang aman untuk berekspresi, mengembangkan bakat, dan merawat diri.

Dukungan laki-laki, terutama pasangan, berulang kali disebut sebagai faktor penentu. Tanpa dukungan itu, proses pemulihan akan terasa panjang dan berat. Namun di sisi lain, para peserta juga menyadari bahwa sesama perempuan kerap masih saling menghakimi. Maka, membangun komunikasi yang jujur—baik dengan pasangan maupun dengan sesama perempuan—menjadi langkah awal untuk berbagi tanggung jawab dan melahirkan keputusan-keputusan penting dari pengalaman perempuan itu sendiri.

Seluruh rangkaian kesimpulan itu kemudian dirangkum oleh Yuyut. Dengan suara yang tenang namun berisi, ia menyebut bahwa sebagian besar persoalan berakar pada pikiran, perasaan, dan minimnya dukungan. Dari sana, ia memperkenalkan istilah yang lahir dari pertemuan ini: perlumbungan sosial. Sebuah bahasa lain dari commoning care—ruang merawat bersama yang hanya bermakna jika perempuan memiliki akses pada sumber material alam dan sumber nonmaterial berupa daya kreatif kerja kolektif. Dalam perlumbungan sosial itulah, persoalan individu diselesaikan secara bersama, disimpan sebagai kekuatan komunitas, dan terus dihidupkan demi keberlanjutan.

Sore hari, kebersamaan berlanjut di kebun teh Kabawetan. Rombongan peserta, panitia, dan relawan bergerak bersama menuju hamparan kebun teh yang membentang luas. Kabut perlahan turun dari perbukitan, menyelimuti barisan tanaman teh yang hijau pekat. Angin pegunungan berembus dingin, menusuk kulit, namun justru menghadirkan rasa segar setelah seharian berada di dalam ruangan tertutup.

Para peserta menyebar dan berkumpul di pondok-pondok kecil yang tersedia di area kebun. Dari tempat itulah mereka menikmati pemandangan hamparan teh yang luas, sebagian tertutup kabut tebal. Teh Kabawetan disajikan hangat, mengepul pelan dari cangkir-cangkir kecil yang berpindah tangan. Aroma teh terasa kuat namun lembut, menjadi teman yang pas untuk sore yang dingin. Tawa ringan, obrolan santai, dan cerita-cerita kecil mengalir tanpa perlu dipandu.

Beberapa panitia lokal yang memahami betul sejarah dan proses pengolahan teh Kabawetan kemudian berkeliling dari satu pondok ke pondok lainnya. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, mereka menjelaskan bagaimana daun teh dipetik—tidak hanya pucuknya—lalu disangrai agar tidak menyisakan kandungan bahan kimia. Proses sangrai inilah yang menghasilkan aroma smokey yang khas. Aroma yang mungkin terasa asing bagi sebagian orang, namun justru menjadi identitas teh Kabawetan. Teh itu tetap nikmat meski diminum tanpa gula, hangatnya terasa menenangkan.

Percakapan pun berkembang lebih jauh. Seorang peserta bertanya tentang kepemilikan kebun teh dan relasinya dengan perusahaan swasta. Panitia lokal menceritakan bahwa di masa lalu sempat terjadi cekcok antara warga dan pihak perusahaan. Namun seiring waktu, ketika warga mulai memperoleh peluang kerja dan kebun teh turut menggerakkan perekonomian lokal, relasi itu perlahan berubah. Kini, warga dan perusahaan menjalin kerja sama dalam menanam dan melestarikan teh, menjaga keberlanjutan yang memberi manfaat bersama.

Selain menikmati teh, beberapa peserta membeli makanan ringan di sekitar pondok. Ada yang membeli gorengan, ada pula yang menyeduh pop mie. Meski demikian, mereka tetap memilih bertahan di pondok, menikmati apa yang telah dibeli sambil berbincang dan tertawa. Hujan yang semula rintik perlahan berubah menjadi deras. Angin semakin kencang, membuat udara terasa semakin dingin dan beberapa peserta menggigil.

Kondisi itu membuat para peserta tak leluasa berkeliling atau mengambil foto di tengah kebun. Sebagian besar foto hanya diambil dari balik pondok, dengan latar hamparan teh yang tertutup kabut. Meski demikian, tak terdengar keluhan. Pemandangan yang indah berselimut kabut justru menghadirkan ketenangan tersendiri. Senyum-senyum hangat tetap bertahan di wajah para peserta, seolah hujan dan dingin tak mampu mengurangi rasa kebersamaan.

Waktu terus berjalan, hujan belum juga mereda. Menjelang pukul enam petang, panitia mulai memanggil nama-nama peserta satu per satu untuk kembali ke homestay menggunakan bus jemputan. Suasana mendadak menjadi riuh. Ada canda singkat, ada panggilan nama yang disahut tawa, ada juga perpisahan kecil sebelum naik ke kendaraan. Sore di kebun teh itu ditutup dengan tubuh yang dingin namun hati yang hangat—kelelahan yang lahir dari kebersamaan, dari rasa dirawat, dan dari pengalaman pulang bersama.(NL)

Alamat

Jl. DP Negara 7, No. 123 Rt 21/Rw 04, Kel. Pagar Dewa, Kec. Selebar, Kota Bengkulu, Kode Pos. 38216

Language

 - 
Arabic
 - 
ar
Bengali
 - 
bn
German
 - 
de
English
 - 
en
French
 - 
fr
Hindi
 - 
hi
Indonesian
 - 
id
Portuguese
 - 
pt
Russian
 - 
ru
Spanish
 - 
es

Privacy Preference Center