Suara mesin perahu nelayan bersahutan di pesisir Desa Merpas dan Linau, Kabupaten Kaur. Laut adalah sumber penghidupan utama warga di sini. Di tengah rutinitas itu, nelayan, pemuda, perempuan, dan perangkat desa berkumpul. Mereka belajar membaca kondisi ekosistem laut dengan tangan sendiri.

Sejak awal, Akar dan dua komunitas pesisir ini sepakat pada satu hal. Menjaga pesisir tidak cukup dengan menumbuhkan kesadaran. Perlindungan laut harus berangkat dari pengetahuan yang akurat soal kondisi nyata di lapangan.

Pelatihan yang menggabungkan ilmu dan pengetahuan lokal

Akar Global Inisiatif menggelar Pelatihan Monitoring Partisipatif serta Survei Ekologi Manta Tow dan Lamun. Kegiatan berlangsung di balai Desa Merpas dan Desa Linau pada 29 Mei sampai 2 Juni 2026. Setiap desa diikuti sekitar 20 peserta: nelayan tradisional, kelompok perempuan, pemerintah desa, dan penyuluh perikanan Kabupaten Kaur.

Pelatihan memakai pendekatan partisipatif. Metode ilmiah berjalan berdampingan dengan pengetahuan lokal yang sudah lama dimiliki warga. Peserta tidak sekadar menyimak materi. Mereka ikut berdiskusi soal titik-titik penting di pesisir yang selama ini mereka kenal sebagai habitat lamun, terumbu karang, dan jalur lintasan biota laut.

Gambar 1. Penyampaian materi pelatihan monitoring lamun dan manta tow oleh Dapot Chandra: Staf Lapangan Akar Global Inisiatif di desa Merpas, Kabupaten Kaur

Bagi kami, masyarakat bukan sekadar penerima manfaat program konservasi. Mereka pemilik pengetahuan. Mereka juga pihak yang paling dekat dengan setiap perubahan di pesisir. Karena itu, pemantauan dan pengumpulan data kami lakukan bersama warga. Cara ini membuat data benar-benar mencerminkan kondisi lapangan. Cara ini juga memperkuat kemampuan komunitas mengelola sumber daya lautnya sendiri.

Lewat pelatihan ini, peserta belajar mengenali spesies lamun, membaca indikator kesehatan terumbu karang, mengamati ekologi bawah laut, dan mencatat spesies yang ditemukan selama survei. Keterampilan ini menjadi bekal warga untuk memantau lautnya secara mandiri.

Turun ke laut: survei ekologi lapangan

Setelah pelatihan, tim turun ke laut. Survei ekologi berlangsung pada 8 sampai 10 Juni 2026 di Merpas dan 11 sampai 13 Juni 2026 di Linau. Tujuannya mengumpulkan data dasar kondisi terumbu karang, padang lamun, dan komponen penting ekosistem pesisir lainnya.

Gambar 2. Survei Ekologi yang dilakukan bersama dengan nelayan dan enumerator di perairan desa Merpas

Masyarakat lokal, kelompok perempuan, dan nelayan tradisional ikut sebagai pemandu wilayah. Mereka paham karakter perairan, pergantian musim, dan lokasi habitat penting. Pengetahuan itu menjadi bagian tak terpisahkan dari pengumpulan data. Di Merpas, survei Manta Tow menyusuri lintasan sepanjang sekitar 6,37 kilometer. Di Linau, pemantauan menyusuri kawasan pesisir desa.

Mengapa data jadi soal penting

Tim Akar menyebut satu tantangan besar dalam pengelolaan pesisir Kaur. Data ekologi yang tersedia secara berkala dan bisa diakses warga masih sangat terbatas. Akibatnya, banyak keputusan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam belum berpijak pada kondisi lingkungan terkini.

Data adalah fondasi tata kelola perikanan dan pesisir yang berkelanjutan. Tanpa data, kita sulit tahu apakah terumbu karang membaik atau menurun. Kita sulit memastikan apakah padang lamun masih sanggup menampung biota laut. Kita juga sulit mengukur seberapa besar tekanan pembangunan dan perubahan iklim menggerus ekosistem.

Kegiatan ini memetakan banyak parameter ekologi secara sistematis dalam satu basis data, mulai dari tutupan lamun, keragaman spesies, hingga kondisi terumbu karang. Kami berharap data ini menjadi rujukan bersama bagi masyarakat, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan pihak lain saat menyusun kebijakan pesisir yang lebih tepat sasaran.

Hasil survei menunjukkan kondisi ekosistem Merpas relatif lebih baik daripada Linau. Di Merpas, rata-rata tutupan lamun mencapai 39,7 persen dan masuk kategori sedang. Tutupan karang hidup mencapai 65,2 persen, masuk kategori baik. Tim mencatat empat spesies lamun, dengan Cymodocea rotundata sebagai jenis dominan. Bentuk pertumbuhan karang pun beragam: karang meja, karang masif, karang bercabang, sampai karang mengerak. Keragaman ini menandakan komunitas karang yang relatif stabil.

Linau menghadapi persoalan yang lebih berat. Rata-rata tutupan lamun hanya 14,4 persen. Tutupan karang hidup berada di angka 46 persen. Komunitas karang didominasi bentuk tabulate atau karang meja yang rentan rusak oleh gangguan fisik. Tutupan karang mati yang tinggi menandakan adanya tekanan terhadap ekosistem di wilayah ini.

Kondisi keduanya berbeda, tetapi ancamannya mirip. Perubahan iklim, kenaikan suhu laut, dan aktivitas pembangunan di pesisir berpotensi mengganggu keberlanjutan ekosistem laut dalam jangka panjang.

Bagi kami, data dari kegiatan ini lebih dari catatan ilmiah. Data adalah alat advokasi. Data memperkuat posisi warga saat memperjuangkan perlindungan pesisirnya. Ketika warga memegang bukti terukur soal kondisi sumber dayanya, mereka punya pijakan lebih kuat untuk ikut dalam pengambilan keputusan, mengusulkan perlindungan kawasan, dan mengawal pembangunan yang berisiko merusak lingkungan.

Karena itu, hasil terbesar kegiatan ini bukan deretan angka survei. Hasil terbesarnya adalah tumbuhnya kemampuan warga menjadi penjaga sekaligus pengelola pengetahuan tentang lautnya sendiri. Lewat pemantauan partisipatif, warga tidak lagi jadi objek konservasi. Mereka menjadi aktor utama yang menghasilkan data, memahami lingkungannya, dan menentukan arah masa depan pesisirnya.

Di Merpas dan Linau, langkah menuju tata kelola laut yang lebih adil dan berkelanjutan sudah dimulai. Dari pesisir yang mereka kenal setiap hari, warga kini menyusun fondasi pengelolaan laut yang berpijak pada data, pengetahuan lokal, dan partisipasi komunitas.

 

  • Penulis: Agif Rendi Sudiro
  • Penyunting: PA. Kusdinar

Alamat

Jl. DP Negara 7, No. 123 Rt 21/Rw 04, Kel. Pagar Dewa, Kec. Selebar, Kota Bengkulu, Kode Pos. 38216

Language

 - 
Arabic
 - 
ar
Bengali
 - 
bn
German
 - 
de
English
 - 
en
French
 - 
fr
Hindi
 - 
hi
Indonesian
 - 
id
Portuguese
 - 
pt
Russian
 - 
ru
Spanish
 - 
es

Privacy Preference Center